Vander Stier




1921
Tjerita ini dimoelai, lihatlah gadis itu. Ia bersepatu coklat berkaus kaki coklat. Tubuhnya putih bagai susu. Ia masih mengenakan seragam Hoogere Burger Schoolen (HBS). Dengan rok putih setinggi betis, baju putih berlengan pendek, dan topi putih seperti perahu terbalik.  Rambutnya coklat juga. Berpilin halus bagai ombak Parang Teritis. Bibirnya lembut. Hidungnya mancung bagai dahan mawar melengkung. Tanganya yang mungil tapi segar dipandang, memegang payung kuning muda dengan pinggiran bunga-bunga.
Itu gadis tengah berdiri di bawah pohon beringin di depan sekolah. Sepertinya perawan kita ini tengah menanti-nanti.
Dan ia masih tampak gelisah sampai pada kemudian waktu sebuah dokar mendekat kearahnya. Kini tampak sudah kecerahan wajahnya. Dokar itu berhenti di dekat gadis.
"Goedemiddag Mevrow Stier. (Selamat siang nona Stier) Teriak lelaki pribumi yang menjadi kusir.
"Apakah alasan kamu hingga terlalu lama menjemputku, Sulaiman?" Kata gadis yang nama lengkapnya Vanderstier itu dengan muka kecut macam asam.
"Maaf Mevrow  Saya tadi di suruh Mener Vanderjagt mengirim surat di kantor postrembours. Maafkan hamba. Maafkan." Ucap itu pemuda sambil merunduk-runduk di samping Nona Stier.
"Sulaiman, maafmu saya terima, tapi tidak dengan merundukmu. Sudah kali-kali aku melarangmu untuk merunduk kepadaku. Tapi kau tetap saja tak hirau." Kata Nona Stier.
"Mari mevrow. Panas matahari bisa memerahkan wajahmu. Mari." Sulaiman tak menghiraukan. Ia malah mempersilahkan majikanya untuk naik di atas kereta kuda.
Nona Stier perlahan naik. Sembari ia berkata pelan, "Lain kali kuharap kau mendengarkan apa yang aku ucapkan."
Pembaca yang budiman, sebelum kita melanjutkan hikayat ini, alangkah baiknya kita ketahui dulu lah siapa dua orang ini dan bagaimana adanya mereka.
Kedua-dua orang ini lahir di tahun yang sama. Hanya saja dalam keadaan bersebrangan nasib. Si gadis ini merupakan anak dari Benjamin Vandeerjugt. Seorang petinggi Belanda yang jabatanya adalah Resident (Gubernur kalau sekarang) di jawa timur. Jadilah ia gadis ayahnya Nederland ibunya pun juga.
Sedangkan laki-laki yang jadi kusir itu tak lain adalah Indisch Slaaf. Budak Pribumi. Ia menjadi budak dari tuan Vandeerjugt. Bapaknya juga, bapaknya bapaknya lagi juga menjadi budak dari para pegawai Departement Van Binneland Bestuur (Departemen dalam negri) sejak masa lampau.
Tapi hubungan mereka dekat. Tuan Jugt lurus hatinya. Ia tidak terlalu membatasi putrinya bergaul dengan pribumi kelas rendah. Sejak kecil dua orang itu banyak bermain bersama. Si putri Resident pun juga sejak dulu sering membagikan pelajaran yang ia terima dari sekolah Europes. Sebab Pribumi tak bakalan boleh bersekolah di sana sekolah. Hanya kalangan pribumi kelas priyayi saja yang boleh. Itu hal juga barang sedikit sekali. Tapi si laki kita ini ia cerah akalnya. Sehat fikiranya. Cerdas. Cekatan. Itulah juga sebab nona Stier suka bergaul denganya. Pun juga si Sulaiman ini. Ia senang bergaul dengan nona Stier. Sebab, ia tak sama dengan nonik-nonik belanda pada umumnya. Nona Stier ini baik budinya. Lurus hatinya. Tidak hianat. Ia juga dari keluarga Belanda yang tak sama dengan lainya. Keluarganya cukup menghormati warga Pribumi. Ayahnya adil. Dengan wewenangnya ia tak segan menghukum warga Belanda yang membuat kekacauan sebab menyakiti Pribumi. Sebab itulah, dua anak remaja ini saling cocok. Saling mufakat. Tak pernah bertikai. Kalaupun toh ada, hanya masalah-masalah sekecil biji coklat. Lain-lainya, mereka satu pendapat.
"Kau sepertinya sedang murung Mevrow? Adakah suatu masalah menimpamu?" Tanya Sulaiman sambil memegang kendali dokar.
"Tadi ibu Vanroose menanyaiku ilmu hitung. Dan aku tak bisa menjawab." Ujar Stier seraya memanyunkan kedua buah bibirnya.
"Hahaha. Tak perlu kau susahkan lah itu, mevrow. Bukankah kita memang bukan orang yang tau? Itulah sebab mengapa kita sekolah bukan? Kalau kita rupanya sudah tau, apa guna juga kita sekolah?" Si kusir Jawa itu menarik tali kekang sebelah kanan. Seketika kuda itu pindah haluan berbelok kanan.
"Kata-katamu bijak, Sulaiman." Jawab Nona Stier. Kemudian gadis jelita itu tampak seperti tersentak. "Sulaiman! Berhenti! Aku ingin Setroop itu." Katanya sambil menunjuk sebuah penjual minuman yang tengah duduk di depan Alun-alun. Sulaiman dengan tangkasnya menarik kedua tali kekang kuda. Kuda jantan itu meringkik dan berhenti.
Stier turun dari kereta. Ia memesan dua cangkir Setroop yang terbuat dari santan, mutiara kenyal, dan bubur sum-sum.
"Kemarilah Sulaiman. Kau juga haus pastinya."
Sulaiman mendekat. Perawakanya yang gagah tampak ia adalah lelaki tangguh. Pakaian Sulaiman tidak seperti budak lainya. Yang hanya bercelana tanpa penutup tubuh. Si Sulaiman ini malah seperti seorang raden. Seorang anak Wedono dengan blangkon menutupi kepala dan keris terselip di belakang pinggang.
Kedua-duanya menikmati setroop itu. Ah Segar.
"Ada tiga pedagang," kata Sulaiman tiba-tiba. "Satu dari negri Cina, kedua dari negri Englisch, ketiga dari Jawa." Sulaiman berhenti bicara. Ia seruput mutiara kenyalnya.
"Lantas?" Kata Nona Stier.
"Lantas mereka kehausan. Mereka membeli Setroop. Tapi Wang mereka tak cukup. Harga semangkuk stroop satu Kelip (5 Sen). 'Ya sudah. Kita iuran saja. Biar cukup' kata si Englisch. 'Aku punya seSen seBil' (satu sen setengah) kata si Englisch lagi. 'Aku punya 3 Sen' Kata si Cina. 'Nah. Pas. Aku punya seBil' Kata si Jawa. Kini Wang mereka pas. 5 sen. Jadilah mereka pesan satu setroop buat bertiga.
"Kemudian?" Tanya Nona Stier tak sabar ia.
"Kemudian mereka hendak menyendok bersamaan stroop itu. Tapi tiba-tiba si Cina menyetop. 'Tunggu!' Sergahnya. 'Kita orang harus adil. Sebab iuaran kita orang berbeda-beda jumlahnya.' Yang lain setuju. Si Cina berkata lagi, 'Buat yang iuaran tiga sen, mestilah ia harus menyendok stroop pakae tiga jari. Buat yang sesen seBil. Pake dua jari. Dan tentulah, yang seBil pake satu Jari.'
"Ahahahaha..." Tiba-tiba saja Nona Stier terbahak-bahak. Pun juga Sulaiman. Gadis itu tertawa terpingkal-pingkal. Rentetan giginya yang putih tampak indah di ruas mata. Juga dekik di pipi kirinya membuat muka itu jelita sempurna.
"Jadilah mereka makan." Lanjut Sulaiman sedikit tertawa. Dan Nonik itupun juga masih tertawa. Sulaiman melanjutkan ucapanya "Si Jawa hanya klingah-klingih sambil satu jarinya menyendoki stroop. Sudah tentu ia hanya klamut-klamut saja.."
Dan kedua-duanya tertawa-tawa di bawah matahari menjelang senja...
Setelah dirasa cukup meminum stroop, mereka kembali naik dokar dan melanjutkan perjalanan.
"Kau dengar, Sulaiman, pemogokan kerja di Tuban dan Gresik?" Tanya nona Stier.
"Iya Mevrow. Banyak. Di Batavia juga. Dipimpin anaknya Sultan Hasanuddin."
"Oh, benarkah? Baru dengar aku itu... hmm.. tapi di luar itu semua, kau tahu apa penyebab hal ini terjadi?" Nona Stier bertanya sambil melihat beberapa pegawai belanda tengah keluar kantor.
"Kurang faham. Hamba kurang tau itu. Apakah kiranya, mevrow?"
"Hmm.. itu sebab terinspirasi dari revolusi Rusia. Banyak sekarang negara-negara yang mulai melawan penjajahnya.." Kata nona Stier. Sulaiman hanya diam. Beberapa saat mereka diam. Hanya gemelatuk kaki kuda yang menghiasi keadaan.
"Bagaimana menurutmu?" Tanya nona Stier kemudian.
"Ha?" Hanya itu respon Sulaiman.
"Bagaimana menurutmu mengenai masalah pemberontakan itu?"
"Menurut hamba? Hahaha. Anda lucu mevrow. Hamba warga pribumi. Tentu saja hamba sepakat dengan mereka orang yang memberontak."
Nona Stier mendesah. Ia perlahan menoleh kesekeliling melihat beberapa bocah bersarung berlengan pendek dan berkopiah. Di tangan bocah bocah itu tergenggam kitab suci Al-Qur'an. Mereka hendak menuju Surau untuk mengaji.
"Kau benar Sulaiman. Ada orang asing bertamu kepada si Fulan. Lantas si tamu itu merebut rumah si Fulan dan menyuruh si Fulan untuk membayar rumahnya  sendiri jika mau menempatinya lagi. Tak masuk akal ya.." Gumam nona manis itu.
Si Sulaiman diam saja. Beberapa saat mereka diam. Cukup lama. Sampai dokar itu berbelok ke arah kiri, dan seratus meter di depan, tampak rumah beton bertengger gagah dengan model genteng Waris kekuningan. Dan tentu itu rumah si gadis.
"Mevrow." Kata Sulaiman tiba-tiba. "Kuharap engkau merahasiakan apa yang kita bicarakan tadi. Terutama yang terahir engkau katakan, Mevrow.."
Nonik Belanda itu paham. Tentu lah, jikalau ia mengatakanya, pastinya Sulaimanlah yang di tuduh menghasut. Dan ia bisa di penjara, bisa-bisa juga diasingkan di pulau Buru.
Sesampai di halaman rumah, Sulaiman buru-buru turun dari kursi kusir. Kemudian ia membuka pintu kereta. Nona Stier perlahan turun.
"Dank Ew (terimakasih), Sulaiman."
"Sama-sama Mevrow." Jawabnya sambil menunduk. Nona stier beranjak menaiki undak-undak Rumahnya. Sedang si Sulaiman beranjak menuju belakang rumah besar itu. Tempatnya singgah ada di sana.
"Ah. Sulaiman," panggil Nona Stier.
"Iya?"
"Nanti malam ada vestifal musik The Ramblers. Kalau ayah mengijinkan, kau mau menemaniku?"
Sulaiman tampak bingung. Biasanya ia hanya disuruh mengantar. Tapi kali ini kok menemani?
"Ya, tentu." Jawabnya cepat. Sebab, bagaimanapun bentuknya, tak boleh pribumi menolak majikan. Itu aturanya. "Asal engkau tak malu Mevrow."  Katanya kemudian.
"Okey. Nanti malam. Aku panggil kau jika jadi." Kata nona Stier. Kembali Sulaiman menundukkan kepala dan berlalu.
Sulaiman masuk kedalam rumah.
"Sulaiman!" Tiba-tiba bapaknya berkata berbisik. Raut mukanya tampak menegang.
"Ada apa, pak?" Tanya Sulaiman.
"Kau di cari saudara  Darsono. Katanya secepat mungkin disuruh menemuinya. "
Tanpa pikir panjang sulaiman segera mengganti belangkonya dengan kopiah hitam. Dan pakaianya ia ganti hem putih, beserta celana beji coklat. Ia terlihat sembunyi-sembunyi. Dari jendela rumah besar, tak disadari sulaiman, Nona Stier memandangnya curiga.
Dari pagar belakang, Sulaiman berlari menyusuri jalan setapak. Melewati kebun tebu, kemudian anak sungai, dan di balik anak sungai itu terlihat pepohonon yang rimbun sekali. Ia masuk ke sana. Dan tak terfikirkan, bahwa di dalam rerimbunan itu ada sebuah rumah gedung tua. Rumah ini dulu bekas rumah eksekusi pada zaman VOC.
"Selamat sore saudara." Sapa Sulaiman. Di dalam rumah itu sudah ada beberapa orang. Ada yang janggal. Wajah mereka tampak menegang.
"Ada apakah gerangan?" Tanya Sulaiman. Tak ada yang menjawab, ia menoleh ke arah seorang Belanda. "Saudara Baars, ada masalah apa?" Tanya Sulaiman kepada si Belanda itu.
Baars mendesah. "Snevliet tertangkap.." Kata-katanya seperti hambar. Tapi menghentikan sejenak laju darah Sulaiman. Bagaimana tidak, Snevliet merupakan seorang Belanda. Namun Snevliet itu memusuhi Belanda. Sama seperti Baars. Mereka adalah orang-orang Belanda yang mendukung Pribumi. "Ia diasingkan." Katanya lagi.
"Dan sialan! Saya juga telah mendapat surat dari Governement mengenai pemulangan diri saya ke Belanda." Kata Baars sambil menyandarkan satu tanganya ke meja. Ia melanjutkan bicara, "Kita orang anggota ISDV mendapat pukulan telak dari pemerintah. Saudara Semaoen, saudara Dewwes Dekker, Vitalist, Hulwist, Marco.. terancam masuk penjara. Darsono di cap sebagai penjahat berbahaya karena Courant Soeara Rakjat-nya. Aksi kita orang dibuat susah oleh pemerintah. Semua surat-surat termasuk surat partikuler di amat-amati oleh Justisie. Kita orang bagai tikus terpojok!" "DAK!!" Lelaki itu menutup pembicaraanya dengan menendang kaki bangku di sampingnya.
Ruangan itu senyap beberpa saat. Semua memegang kepala.
"Lantas bagaimana rencana kita nanti malam saudara-saudara?" Kata Sulaiman memecah keheningan.
"Ya, tentu kita jalankan." Kata Darsono yang dari tadi hanya diam. Darsono merupakan cendekiawan pribumi. Ia juga yang menjadi redaktur surat kabar Soera Rakjat. Satu-satunya surat kabar yang berbahasa melayu.
"Kau siap, kan? Sulaiman?" Tanya Semaoen.
"Iya. Tentulah. Malah posisi saya cukup menguntungkan. Karena saya bisa masuk ke ruangan itu." Kata Sulaiman tersenyum.
"Aha! Benarkah? Bagaimana bisa?" Sahut Baars girang.
"Iya. Takdir." Saat Sulaiman mengatakan itu, tiba-tiba dari pintu terdengar suara perempuan.
"Goede Middag." 
Semua wajah tertoleh. Terpaku. Termasuk Sulaiman. Beberapa detik ruangan seperti mati "Mev..Mevrow Stier?!" Pekik Sulaiman. Sedang gadis di pintu itu tampak canggung.
Kini semua mata tertuju pada Sulaiman. Tatapan yang mengamcam dan bertanya-tanya.
"Saudara- saudara. Tenang. Tenang. Nona Stier tak sama dengan Nonik Belanda lainya.." sejenak Sulaiman menoleh ke arah nona Stier. " Ia ada di pihak kita. Ia sama dengan Tuan Snevliet, Baars, JC Stam.. Sama. Ia sama." Terang Sulaiman.
"Benarkah itu Mevrow?" Tanya Baars dengan bahasa Belanda dan bernada ancaman.
"Yeah. Aku sudah mendengar pembicaraan kalian dari tadi.." Sejenak gadis Belanda itu diam. Tampak canggung di hadapan para lelaki pergerakan ini. Tapi nonik itu melanjutkan, "Kalau saja aku tak sehaluan dengan kalian, dan aku mendengar obrolan kalian tadi? Bukankah bodoh sekali aku malah menampakkan diri di hadapan tuan-tuan?"
"Iya. Betul sekali. Saya kenal dekat Nona Stier. Ia dapat dipercaya. Ia lurus hatinya tuan-tuan." Tambah Sulaiman.
"Baiklah Mevrow." Kata Baars masih dalam bahasa Belanda. "Kalau kau masuk ruangan ini, artinya kau juga menjadi Anggota ISDV. Itu tak bisa di tawar lagi. Dan kau harus siap menerima resiko Mevrow. Di penjara, di pulangkan ke Belanda, diasingkan, dan di hukum mati. Kau berarti sudah siap."
Nonik belanda itu mengangkat tanganya setengah badan, "Apa yang harus di takuti?" Katanya.
Dan yang ada di ruangan itu mengangguk serta tertawa ringan.
Hari itu mereka orang-orang berencana membunuh seorang petinggi Raad Governement Comicarist yang kapan bulan lalu membunuh 14 Slaafs atau budak-budak pribumi, hanya gara-gara mereka mogok kerja. Dan malam itu, si comisarist akan menghadiri pagelaran music The Ramblers. Rencananya Eksekusi itu di lakukan oleh Sulaiman.
Tapi Sulaiman sudah tertangkap terlebih dahulu sebelum ia sempat mengeluarkan pestolnya. Sulaiman diasingkan selama 16 tahun di pulau Buru, dengan larangan tanpa surat, tanpa koran, dan tanpa buku bacaan. Sedangkan VanderStier di vonis bersalah dan harus pulang ke Belanda.
Semaoen, Darsono, Hulwist, dan kawan-kawan lain di penjara.

Pada tahun antara 1905-1927 Perlawanan indonesia tidak lagi  melalui Fisik. Melainkan lebih fokus melalui media dan tulisan. Juga lembaga-lembaga yang diakui oleh belanda. Seperti lembaga dagang dan sosial Syarikat Islam (SI). Lembaga keagamaan, Muhammadiyah, NU. Lembaga sosial budaya dan ekonomi Boedi Oetomo.. tapi semua tak ada perubahan yang cukup signifikan hingga pada tahun 1942 Di mana masa perang Dunia kedua semakin memanas , dan belanda terpaksa ikut campur, juga jepang yang sedang naik daun sebab semakin meluasnya wilayah kekuasaanya. Hingga pada tahun 1945 an, saat inggris, Amerika, dan beberapa negara bagian menjalin sekutu dan membombardir siapa saja musuhnya, banyak negara-negara yang melepaskan diri dari para penjajahnya. Termasuk Indonesia.
Epilog:
Sebelum Stier di pulangkan ke Belanda, dan Sulaiman diasingkan, Stier pernah berpesan "Kita akan hidup lama. Aku yakin itu. Setelah carut marut ini selesai, aku minta kau tetap di rumahmu. Aku akan menyusulmu. Banyak hal akan terjadi, kuharap kau sabar Sulaiman. Kau pegang janjiku."
Sulaiman memegang janji itu. Sepulang dari pengasingan, ayahnya telah meninggal, dan rumah yang ia tempati telah berpindah tangan. Ia menanti saat yang tepat untuk mengambilnya kembali. Dan setelah kemerdekaan, ia mendapatkan kembali rumah dan tanahnya. Dan selanjutnya, ia hidup dalam masa penantian, menanti yang pernah berjanji, juga menanti mati. Pada tahun 1970, Di sebuah senja yang menguning, di antara sepoi semilir angin, saat Sulaiman menyirami bunga-bunga di depan rumahnya, Stier melunasi janjinya. Ia mendatangi Sulaiman.
"Bunga-bunga anda terlihat bahagia, tuan." Kata Vanderstier dalam bahasa Belanda. Sulaiman terperanjat. Ia seketika menoleh ke arah belakang. Stier tersenyum. Rambut perempuan itu Sudah hampir merata putih. Kini umur Stier sudah 54 tahun. Sedang Sulaiman 62 tahun.
"Mev... Mevrow!!" Ucap Sulaiman tergagap.
"Kita memenuhi janji..." Kata Stier.
Di kala senja, mentari menguning, bersemilah dua hati. Berpilin menyatu. Merekah bersama cahaya sendu. []


Komentar

Postingan Populer