PENGERTIAN DIALEKTIKA DAN DIALEKTIS

PENGERTIAN DIALEKTIKA DAN DIALEKTIS
          Berbicara mengenai filsafat tentu tidak akan lepas dari pembahasan dialektika/dialektik. Lebih-lebih jika filsafatnya merupakan filsafat Meterialis ataupun Praksis. Yang digagas oleh filsuf modern tersohor. Karl Heinrix Marx. Atau lebih sering didengar dengan nama Karl Marx.
karl-marx-wikimedia-commons
Karl Heinrik Marx
            Bagi orang-orang yang telah cukup dalam terjun dalam dunia filsafat, sudah dapat di pastikan istilah dialektika tidaklah asing di telinga mereka. Namun untuk orang-orang yang baru menyelam di dunia filsafat(seperti saya), bisa jadi masih gagap dengan istilah itu. Atau mungkin sebagian dari mereka juga masih ada yang belum tahu sama sekali apa itu dialektika. Oleh sebab itu kali ini Cahaya Pesantren akan sedikit menjelaskan mengenai Pengertian Dialektika Dan Dialektis. Dan seperti biasa, kita akan menggunakan bahasa yang santai. Tidak terlalu formal. Karena yang saya rasakan ketegangan fikiran saat belajar filsafat membuat otak macet untuk menyerap lebih banyak materi. Maka dari itu jangan “tegang” ya. Sekali lagi jangan “tegang”. Hehehe…
Dialektika
            Berasal dari kata dialog yang artinya hubungan atau komunikasi dua arah. Maka dialektika secara garis besar memiliki makna: suatu keadaan terjadinya saling berhubungan antara satu keadaan dan keadaan lain.
     Seiring berjalanya waktu seorang filsuf jerman,George Wilhelm Friedrich Hegel,mendefinisikan dan membahasakan dialektika mempunyai tiga bagian yang saling berkaitan antara satu dengan yang lainya. Tiga hal tersebut adalah:
  • Tesis (Pengiyaan)
  • Anti-tesis (Pengingkaran), dan
  • Sintesis (Titik temu atau kesimpulan dari dua hal di atas).
Lebih lanjut Hegel menjelaskan bahwa Tesis memiliki sifat yang spontan, umum dan Abstrak. Hehe… Sudah mulai bingung? Tak perlu hawatir. Akan saya kasih contoh.
Seumpama di suatu hari kita tengah berada di sebuah pantai, lantas mata kita menangkap sebuah pemandangan yang indah, sebuah tebing yang berdiri kukuh seolah menjadi benteng laut. Di saat sepeti itu sebuah fikiran muncul dalam otak kita, dan kita bergumam dalam hati “Alangkah indahnya semua ini…” di saat seperti itu berarti kita telah mempunyai sebuah “tesis” baru. Yaitu keindahan suasana pantai. Namun tak berselang lama mata kita melihat seorang bule yang hanya memakai bikini tidur di atas pasir di bawah teriknya matahari. Dengan adanya pemandangan itu terjadi penolakan dalam fikiran kita. Kita berfikir,  “pemandangan pantai ini tidak jadi indah karena ada bule itu.” Pemikiran kita semacam inilah yang dinamakan anti-tesis. Penolakan terhadap sebuah penilaian awal atau pembenaran awal.
george-wilhelm-friedrich-hegel
(Willhelm Friedrich Hegel)

         Lantas. Setelah kita berpikir bahwa pemandangan pantai tidak lagi indah karena adanya seorang bule, fikiran kita mengajak untuk mencari solusi bagaimana agar keindahan yang sempat tercipta kembali ada. Akhirnya kita berpikir “Berarti bule itu harus di singkirkan.” Jika kita berfikir demikian, maka fikiran kita itulah yang dinamakan Sintesa atau sintesis. Sebuah kesimpulan yang tercipta dari kontradiksi antara tesis dan anti-tesis. Nah, kesinambungan dan perputaran tiga hal itulah yang dinamakan DIALEKTIKA. bagaimana Sobat, sudah jelas bukan?
       Selanjutnya Dialektis. Kata dialektis sebenarnya hanya di peruntukkan bagi orang-orang yang berpikir menggunakan metode dialektika-meskipunsaya yakin semua orang sebenarnya telah berfikir sesuai dialektika.
Namunorang yang memahami ilmu dialektika dan yang tidak,memiliki perbedaan yang begitu kontras. Seorang yang tidak memahami dialektika, kehidupanya murni mengikuti arus realitas. Kebanyakan dari mereka akan sukses, jika memang realita lingkungan hidup yang mereka lakoni lebih besar ke arah sukses. Dan kebanyakan dari mereka juga akan banyak yang gagal atau kualitas hidup mereka buruk ketika memang realita kehidupan di sekitar mereka lebih banyak hal negatif. Mereka lebih mirip dengan sebuah botol kosong, hanya terisi angin, yang mengalir di atas sungai yang penuh dengan batu. Mereka hanya mengalir dan mengalir. Dan sudah dapat di pastikan. Sampainya botol itu ke hulu sungai merupakan hal yang sedikit mustahil.
Sangat berbeda bagi seorang dialektis, yang memahami dialektika dan menerapkanya dalam hidup. Ada dua kemungkina bagi seorang yang dialektis. Jika ia menjadi seorang yang positif, maka ia akan menjadi seorang yang berkualitas dalam hal kebaikanya. Namun jika ia menjadi penjahat, ia akan menjadi penjahat yang berkualitas pula.
Hal demikian sangat mungkin terjadi. Karena seorang dialektis memiliki analisa yang lebih tajam dan akurat dalam memandang realita kehidupan. Dengan analisanya itu, mereka mampu membuat semacam peta. Di mana menempatkan, di mana mengambil, efek-efek yang di timbulkan, solusi pemecahnya… Dan lain-lain mereka telah menganalisanya dan memahaminya. Tak pelak, seorang bungkarno dapat menciptakan kemerdekaan melalui diplomasi. ( karena saya yakin, dari beberapa tulisan bpk. Sukarno mengenai filsafat, beliau paham betul apa itu dialektika). Dan tak mengherankan juga, seorang Hitler mampu memiliki kekuatan militer dan kekuasaan yang begitu luasnya karena (beliau) juga seorang filsuf. Yang tentu memahami dialektika.
Oleh sebab itu, jika sobat ingin berkualitas dalam hidup sobat, (kualitas kebaiakan tentunya. Kalo dalam keburukan, lebih baik tak berkualitas) tentu memahami dialektika, merupakan hal sedikit wajib. (Tak berani berkata wajib. Karena yang lebih wajib adalah belajar agama.. Hehe..) Dan selanjutnya, sobat telah sah dikatakan sebagai seorang DIALEKTIS. ()()

Komentar

Postingan Populer