Cerpen cinta: Permintaan Terahir Putri Misha'al (dari kisah nyata)
Oleh: Rogebi
“Ayah sama sekali tidak dapat memahami hati wanita...” perempuan itu terisak. Ia melangkah cepat. Membuka pintu, dan menghilang beserta suara gebrakan pintu yang memekikkan telinga.
“Demi Allah! Seharusnya engkau dapat memahami perasaanya wahai suamiku.” Seorang perempuan berjubah coklat memandang lekat-lekat lelaki di sampingnya.Lelaki bertubuh besar dan berjenggot lebat itu menghela nafas. Ia memandang istrinya beberapa saat. Tak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut mereka. Ruangan terasa begitu senyap. Hanya suara pendingin ruangan yang menderu. Menambah kesan kemuraman dalam ruangan.
Perlahan lelaki itu mengangkat tubuhnya dari tempat duduk. Jubahnya yang berwarna keemasan tergerai ketika tubuhnya telah sempurna tegak. Ia berjalan meninggalkan ruangan. Langkahnya begitu berat. Tubuh besarnya pun hilang di balik pintu.
Dalam ruangan lain, perempuan berwajah jelita itu masih tetap terisak. Suara isaknya mengendap dalam dinding-dinding biru yang sepi.
Pintu ruangan terbuka. Perempuan berjubah coklat masuk dengan tatapan nanar.
“ wahai Misha’al putriku. “ ibu itu mengelus punggung putrinya yang masih tampak bergetar. “Ibu tak dapat melakukan hal apapun. Apa yang di katakan ayah, ibu tak dapat menyangkal atau menyanggah.” Mata perempuan empat puluh tahunan itu mulai berkaca-kaca. “Maafkanlah ibu. Maafkan wahai putriku...” Matanya tak dapat lagi membendung linangan air mata.
Misha’al menoleh. Ia peluk tubuh ibunya. Berharap ada sebuah cahaya terang yang dapat menuntunya untuk keluar dari kubangan masalah yang ia hadapi saat ini. Menurutnya ini adalah masalah yang paling pelik yang ia hadapi. karena menyangkut masalah hati, jiwa, dan perasaan. Siapapun faham jika tak ada yang dapat memaksakan perasaan. Tak ada yang dapat memaksakan cinta. Biarkan cinta itu datang dengan sendirinya. Menyambut sang pujangga layaknya lebah-lebah madu menyambut kelopak bunga di pagi hari. Sekali saja cinta dipaksa untuk mendatangi sesuatu yang tidak di kehendakinya, niscaya ia akan runtuh dan bergolak. Layaknya menyatukan air dan minyak. Sekuat apapun mencoba menyatukan mereka, tidak akan pernah mereka bersatu.
Dan saat ini. Itulah yang dialami Misha’al. kemewahan yang ia miliki, pengaruh yang melekat dalam tubuhnya sebagai putri kerajaan arab Saudi, dan kecantikanya yang sempurna, yang seolah dia adalah ciptaan khusus dari Tuhan, sama sekali tak berarti baginya. Semua lenyap, Sirna, dan hanya menyisakan kesemuan belaka- Setelah sang ayah, Raja Faishal, berkehendak menjodohkanya dengan pangeran Abdus Shultan. Putra dari saudara lelakinya.
Tentu saja Putri itu menolak mentah-mentah. Siapa yang tidak mengenal Shultan? Seantero Arab pun tahu jika pemuda itu adalah pemuda bengis yang tak bermoral. Sudah beberapakali ia kepergok meminum Khamr. Memakai sabu-sabu. Dan sudah berapa puluh wanita yang telah ia tiduri. Pemuda itu memilki kehidupan yang terlampau mewah, glamour dan foya-foya. Bisnis tambang minyak milik ayahnya adalah yang terbesar ke dua setelah milik raja Faishal. Dan Dari sanalah bagaimana uang mengalir ke dalam sakunya. Seperti sungai Nil yang tak akan pernah surut.
Dan baru-baru ini sebuah koran nasional El-Miraat memberitakan bahwa Abdus Shultan terkena skandal dengan perempuan Amerika. Abdus Shultan menganiaya perempuan yang menjadi pembantunya itu lantaran enggan memenuhi hasrat hewaninya. Peristiwa itu terjadi di istananya yang terletak di daerah kawasan elit Wasington DC.
Hati Misha’al benar-benar pedih mendengar calon pemimpin keluarganya, seorang yang akan menemaninya mengarungi indahnya kehidupan dalam balutan ikatan yang sah, adalah seorang yang terkenal kebiadabanya. Hatinya seperti tersayat dengan pedang-pedang berkarat.
Hal itu sangat bertolak belakang dengan jiwa yang bersemayam dalam diri putri Misha’al. Ia terkenal dengan putri raja yang paling rupawan, putri yang memiliki mata rembulan, begitu orang-orang Saudi menyebutnya. Putri yang terkenal cerdas dan berwibawa, putri yang terkenal dermawan dan penuh kesederhanaan.
Hatinya berontak. Dimanakah letak keadilan di dunia ini? Apakah aku pantas bersanding denganya? Demi Allah! Menyebut namanya saja mulutku serasa dipenuhi racun.
Namun semua diluar kekuasaanya. Apalah arti seorang putri jika di atasnya masih terdapat seorang raja. Ia tak dapat melakukan apapun. Seolah tubuhnya telah terkunci . Hanya mampu terdiam mengikuti aliran garis takdir yang penuh kegelapan.
“Putriku,” kata sang ibu. “Ibu memiliki sebuah jalan keluar. Setidaknya untuk menunda petaka ini.” Misha’al segera mengangkat wajah. Air mata di pelupuk seketika berhenti mengalir. Kata-kata itu seolah adalah setitik cahaya terang yang menentramkan.
“Apakah engkau mau mendengar Umi?”
Misha’al mengangguk.
“Baiklah. Umi ingin engkau melanjutkan study mu ke Lebanon. Selesaikanlah gelar mastermu di sana. Setidaknya itu akan menundamu dari pernikahan.” Kata-kata ibunya begitu dalam dan serius. Misahal memandang lekat-lekat sang ibunda. Ia tatap mata ibunya yang begitu bening penuh kesahajaan. Misha’al kembali menghamburkan kepalanya dalam pelukan sang ibu. Perempuan mengelus kepala putri kesayanganya.
“Engkau tak perlu khawatir. “ Kata ibunya kembali. Seolah mengerti apa yang di rasakan Misha’al. “ ibu lah yang akan mengurus izin dari ayahmu. Engkau tak perlu Khawatir wahai putriku...”
Misha’al kembali terisak. Ia kembali memeluk satu-stunya manusia yang saat ini masih peduli denganya. Sebuah cahaya telah tampak. Ia merasa masih ada jalan untuk keluar dari lubang tanpa cahaya ini. Meski jalan itu teramat sempit dan berliku, tapi bagi dirinya itu adalah cahaya kehidupan.
***
Air port King Abdul Aziz penuh sesak dengan ribuan manusia. Hampir segala macam bentuk manusia ada di sana. Manusia bermata sipit dari Cina, lelaki hitam-legam dari Afrika Utara dan sudan, orang-orang berwajah merah dari rusia dan masih ada puluhan jenis lain. Hampir tujuh puluh persen dari mereka mendatangi Saudi Arabia karena hendak umrah sekaligus berwisata. Selebihnya rata-rata adalah para pedagang dan pebisnis tambang minyak.
Pesawat Emirates Air lines baru saja lepas landas dari bandara King Abdul Aziz. Terus melaju menuju bagian tenggara. Menyusuri laut merah, Oman, Yordania, dan akan berhenti di Bandara Rafik Hariri, Beyrut, Lebanon.
Seorang pramugari menawarkan beberapa menu makanan siap saji yang ada di tanganya. Pramugari bergaun hijau itu seperti tak pernah berhenti tersenyum. Lipstik merahnya tampak seperti sepatu yang ia pakai.
“Apakah anda menghendaki makanan ini wahai tuan putri?” pramugari itu menawari Misha’al. Misaha’al menggeleng lemah.
Seorang lelaki berkemeja biru langit yang sejak awal tadi membaca buku di samping Mishaal seketika menoleh kearah Misha’al. Tatapanya menunjukkan keheranan yang luar biasa.
“A..Anda tuan putri?” tanya pemuda berambut rapi dan berkacamata itu. ia sibuk menata tubuhnya.
Misha’al tersenyum.
“MasyaAllah. Maafkan saya! Maafkan saya. Saya benar-benar tidak menyadari kalau di samping saya adalah sang putri.” Pemuda itu bertingkah rikuh.
“Akhi, akhi, tenang. Demi Allah, kenapa anda harus rikuh seperti itu. Apakah karena status saya sebagai putri. Ayolah, akhi jangan bercanda, kita sudah dewasa. Kita menjalankansemua hal dengan profesional.” Misha’al tersenyum kearah lelaki di sampingnya. Ia memang sengaja memilih pesawat komersial daripada pesawat khusus milik kerajaan. Hal itu ia lakukan agar tidak banyak orang yang nantinya mengetahui kepergianya. Juga, ia sangat menginginkan hidup layaknya rakyat biasa. Dan ia juga sudah yakin bahwa kehadiranya akan mengagetkan beberapa penumpang lain.
Ada sedikit kekaguman di dalam hati si laki-laki ketika menyadari bahwa perempuan yang ternyata sang putri jazirah Arab itu menaiki pesawat komersil pemerintah.
“Hendak kemana anda? “tanya Misha’al.
“Saya akan pulang.”
“Anda keturunan lebanon?”
Lelaki itu tersenyum. Ia membenarkan letak kacamatanya. “Anda benar. Tepat sekali. Saya keturunan asli lebanon. Dan insyaAllah sekarang saya akan mendatangi tempat di mana saya di lahirkan.” Lelaki itu sekilas memandang Misha’al. ujung matanya menangkap Misha’al yang tengah tersenyum. Dadanya bergetar. Ia tak dapat berbohong jika hatinya mengakui paras perempuan di sampingnya itu begitu jelita dan bening.
“Oh. Kebetulan sekali. Saya juga hendak menuju lebanon. Saya hendak melanjutkan study saya di American University of Beyrut.”
Obrolan mereka pun terus berlanjut. Pembicaraan mereka lebih banyak menyinggung universitas AUB. Universitas ternama Lebanon. Beruntung sekali bagi Misha’al, karena Lelaki bernama Ahmar itu ternyata juga mahasiswa AUB, yang saat ini tengah menyelesaikan skripsinya untuk menuju S1.
***
“Semoga keselamatan selalu bersamamu. “ Misha’al tersenyum ke arah Ahmar.
“Semoga Allah memudahkan segala urusanmu Ukhti. Assalamualaikum.” Langkah mereka pun terpisah. Misha’al menuju sebuah mobil yang telah menunggunya. Sedang Ahmar menuju area parkir taksi.
Deru angin malam lebanon menggerakkan ujung gaun putri Misha’al. Sebelum memasuki mobil lamborghini di depanya, ia sempatkan mengatupkan mata dan perlahan menghirup udara malam lebanon yang menenangkan. Ia sadar tujuan utamanya di bumi lebanon ini hanyalah menghindari sebuah aral dalam hidupnya. Tapi ada sebuah perasaan ganjil yang kini perlahan memasuki lubuk hatinya. Seolah udara lebanon begitu akrab di kulitnya, seolah tanah lebanon adalah tanah di mana ia di ciptakan. Ia tak dapat memahami apa yang ia rasa. Ia hanya yakin, bahwa hatinya terikat dengan lebanon.
***
Ini adalah minggu ke dua Misha’al menjalani hari-harinya di negri yang baru. Tak butuh waktu lama bagi dirinya untuk segera mengenal beberapa teman. Bahkan salah satu dari mereka telah menjadi sahabat bagi Misha’al.
“Wahai, putri. Untuk saat ini engkau tak perlu cemaskan mengenai rasa makananya. Ini adalah restoran paling ternama di sudut kota beyrut.” Zahra’ menjelaskan maksudnya. Untuk kali ini ia tak mau kembali mengecewakan tuan putri seperti halnya kemarin. Ia membawa Misha’al mencicipi masakan restoran Afrika.
“Apakah aku akan memakan daging mentah dengan kecap lagi?” canda Misha’al. Mereka tertawa.
“Demi Allah. Membayangkanya saja perutku sudah mual tuan putri...”
Restaurant itu tidak terlalu besar. Kursi-kursi terjajar rapi mengitari satu buah meja berwarna crame. Lampu-lampu yang ada memancarkan cahaya kekuningan bersentuhan dengan lantai marmer. Beberapa orang lebanon sedang asyik bercengkrama menikmati senja. Sesekali dari mereka melempar lirikan pada Misha’al. lantas kemudian berbisik-bisik dengan kawan di sampingnya.
Misha’al memutar pandanganya mengelilingi seisi ruangan. Tiba-tiba pandanganya terhenti berpusat pada seorang lelaki berkemeja hitam yang duduk membelakanginya.
“Ada apa tuan putri?”
“Ah. Tidak. Tidak. Aku rasa aku kenal dengan orang itu?” Misha’al menuding lelaki yang hanya diam menyandarkan punggungnya di sebuah kursi.
“Ukhti kenal dia? Benarkah? Dia adalah Ahmar. Mahasiswa yang mendapat predikat Mumtaz dalam skripsinya mengenai Filsafat Islam.”
Misha’al memandang lekat sahabatnya itu. Ia heran sejauh itu sahabatnya mengenal si lelaki. Atau memang lelaki itu sudah begitu masyhur di kalngan mahasiswa.
“Zahra’. Mari kita duduk di sana.” Misha’al mengarahkan telunjuknya ke bangku si lelaki.
“Baiklah..” Jawab Zahra’ masih memendam heran.
“Assalamualaikum.” Sapa Misha’al. pemuda itu menoleh cepat. Beberepa saat ia terdiam memandang dua perempuan di depanya.
“MasyaAllah. Ukhti Misha’al?” Ahmar setengah terperanjat. Ia tak dapat berkata apa-apa kecuali hanya menggerak-gerakkan tanganya.
“Saudara keberatan jika saya dan teman saya duduk di sini?” Misha’al tersenyum.
“oh. Tidak. Tidak. Dengan senang hati. Silahkan putri.”
Mereka menghabiskan waktu senja dengan bercengkrama. Misha’al banyak bertanya mengenai bagaimana perkembangan Filsafat Islam. Ahmar menjelaskan panjang lebar tentang naik turunya filsafat islam, hingga seluruhnya hancur setelah Filsafat barat mendominasi fikiran-fikiran masyarakat dunia islam hingga saat ini. Ahmar juga menjelaskan tokoh-tokoh filsafat barat modern seperti Karl Heinrik Marx, Palazzo, Fredrick Nitche, Thomas Hagel dan banyak lainya lagi.
“Bahkan, Nitche yang juga seorang seniman, membuat sebuah puisi yang berbunyi. ‘Tuhan telah mati. Dan bau busuknya tercium sampai ke pasar-pasar...’”
Jauh dalam dasar hati Misha’al mengagumi lelaki itu. Dari setiap apa yang dimilikinya, cara ia berbicara, cara ia menerangkan, dan wawasan-wawasan yang ada dalam otaknya, semua Mishaal kagumi. Terbersit dalam hatinya betapa lelaki ini begitu bertolak belakang dengan Abdus Shultan.
Di lain hati Ahmar juga sangat mengagumi Misha’al. dalam pandanganya, Misha’al memiliki perangai yang baik dan profesional. Ia adalah perempuan yang murah senyum dan rendah diri. Meskipun dia adalah putri dari seorang raja, namun dari penampilanya ia bukanlah tipikal orang yang suka bersenag-senang dan foya-foya. Sangat berbeda dengan perempuan-perempuan kaya lebanon.
“Wahai Ahmar,” Kata Misha’al. “Di manakah kediaman anda?”
“Oh. Rumah saya tidak terlalu jauh dari sini. Hanya berjarak empat blok. Anda tak perlu memakai pesawat kerajaan jika hendak mengunjunginya.” Ahmar terkekeh.
Misha’al tertawa mendengarnya. Juga Zahra’.
“Baiklah. InsyaAllah dalam waktu dekat ini saya akan membawa pesawat di rumah anda.” Tawa pun kembali pecah.
Suara adzan maghrib berkumandang memenuhi setiap relung kota. Misha’al dan Zahra’ segera pamit undur diri untuk kembali menuju flat kediaman mereka di Jantung kota Beyrut.
“Sepertinya pemuda itu tertarik denganmu wahai Putri.” Kata Zahra’ setengah berbisik di dalam mobil. Misha’al memandang Zahra’ sekilas, lalu tersenyum.
“Tahu dari mana, kau?” Tanya Misha’al.
“MasyaAllah. Apakah ukhti tidak melihat sikapnya dan cara bicaranya? Tuan putri. Bukankah anda juga tahu jika laki-laki sangat tidak lihai dalam hal menyembunyikan perasaan?! Lihatlah tadi. Ia tak berani melihatmu terlalu lama. Bahkan ia tak mau terjadi kontak mata denganmu, putri. Aku yakin jika ia memaksa untuk berani menatap mata anda. Maka semua akan terkuak. Dan laki-laki tak mau itu terjadi!”
“Engkau terlalu terburu-buru Zahra’” Misha’al tersenyum. Namun mendengar itu, hati Misha’al berbunga. Hati yang selama ini layu seolah kembali mendapat siraman yang menyejukkan. Misha’al melempar pandangnya ke luar jendela. Mega merah terlihat menyeruak di atas perbukitan Al- Musyaitibah. Diam-diam Zahra’ memperhatikan Misha’al. ia melihat wajah Misha’al tidak seperti biasanya. Wajah eloknya kini begitu cerah.
***
Lebanon mamasuki musim dingin. Butiran-butiran salju melayang-layang di udara sebelum akhirnya terjatuh di atas aspal, atap rumah-rumah, pertokoan, masjid, lampu-lampu jalan... Menyelimuti kota hingga menjadi seperti kota putih nan menyejukkan.
Mobil Honda City merah menembus kabut salju. Kali ini Misha’al mengendarai mobilnya sendirian. Ia menuju arah timur lebanon dan terus melaju hingga memasuki kawasan Tyre.
Ahmar menyambut Misha’al dengan senyum yang mengembang. Misha’al juga di sambut oleh keluarga Ahmar. Mereka memasuki rumah bergaya Ghotic modern. Misha’al cukup terperangah ketika dalam rumah itu telah tersaji hidangan-hidangan mewah yang belum pernah ia temui sejak ia berada di Lebanon.
“Saya harap engkau suka wahai tuan putri.” Kata Fatimah, ibunda Ahmar. “Hanya hidangan seperti ini yang dapat kami suguhkan dari keluarga kecil ini. Sungguh saya merasa ini sangat sederhana untuk tuan Putri.”
“ MasyaAllah. Alhamdulillah.” Misha’al tersenyum. “Saya sangat merasa terhormat atas semua ini. Saya rasa ini terlalu berlebihan...”
“Baiklah, mari kita duduk.” Ahmar menawari.
Setelah menyelaesaikan hidangan. Mereka berpindah menuju ruang tamu. Ibu Fatimah menceritakan bahwa ayah Ahmar adalah seorang staf keduataan besar Lebanon untuk Arab Saudi.
“MasyaAllah. Benarkah itu? Kenapa engkau tak pernah bercerita wahai Ahmar??” Misha’al memandang Ahmar. Ahmar hanya tersenyum simpul mengangkat ke dua alisnya.
Obrolan mereka terus berlanjut mengenai keluarga Ahmar. Suasana akrab menyelimuti mereka. Meski baru saat ini Misha’al berkunjung ke rumah Ahmar, namun ia merasa telah hampir setiap hari ia berkunjung. Tidak ada rasa canggung ataupun penghormatan yang berlebihan dari keluarga ini. Dan itu adalah suatu hal yang diharapkan Misha’al.
“Baiklah. Sepertinya saya harus kembali ke flat. Saya sangat mengharapkan keluarga ini mengunjungi flat saya...”
“InsyaAllah. Secepatnya kami akan membalas kunjungan anda tuan putri.” Jawab Ahmar. Ia menoleh ke arah ibundanya. Ibu Fatimah tersenyum mengangguk.
Misha’al kembali memacu mobilnya menuju jantung kota beyrut. Dalam keheningan perjalanan malam itu sesekali ia tersenyum mengingat obrolan-obrolan yang keluar dari pembicaraan dengan keluarga Ahmar. Bayanganya melayang-layang mengingat senyum Ahmar yang begitu bersahaja dan penuh ketulusan. Hati Misha’al bergetar. Ada desiran lembut yang tak dapat ia ungkapkan dengan apapun kecuali dengan senyum. Ia mendesah pelan. Manambahkan gigi persneling dan memacu mobil itu menyobek salju dimalam pertama musim dingin lebanon.
***
“Kalau kau merasa telah cocok dan yakin denganya. Segeralah ungkapkan isi hatimu kepadanya....” Ibu Fatimah memandang anak satu-satunya itu.
“Ibu. Bukanya aku tak memikirkan hal itu. Tapi masalah terbesarnya adalah dia seorang putri. Putri jazirah Arab. Sedang aku? Aku hanya anak seorang staff kedutaan. Ibu tentu tahu maksud putramu ini...”
“Ahmar, anakku. Ternyata engkau tidak terlalu memahami hati seorang perempuan. Syukurlah kalau begitu. Berarti selama ini kau tidak banyak mengenal perempuan.”
“Maksud ibu?”
“Anakku. Ketika seorang perempuan mencintai seorang lelaki tulus dari dasar jiwanya, murni dari relung hatinya, Tidak akan pernah ada sesuatu hal pun yang akan merusak perasaanya. Perasaanya akan tetap utuh. Sempurna tanpa ada cacat walau sebesar gandum. Tidak anakku. Ketika memang putri itu menaruh hati padamu, Seburuk apapun kondisimu, dan serendah apapun yang ada dalam dirimu, ia akan tetap menjaga hatinya untukmu. Dan jika ada satu hal yang menurutnya kurang berkenan dalam hatinya, Ia tidak bakal berpaling darimu. Justru ia akan mencoba membenahimu. Membenahi segala apapun kekurangan di matanya yang ada di dirimu. Sudahlah. Besok temui dia. Ajaklah bicara dari hati ke hati. Ibu mendoakanmu. Yakinlah.” ibu Fatimah beranjak dari kursi. Meninggalkan Ahmar dalam kekalutan jiwanya yang telah terpatri dengan seorang perempuan yang memiliki status jauh di atasnya.
Keesokanya, pagi hari, Ahmar menghubungi nomor telepon Misha’al.
“Assalmualaikum.”
“Waalaikum salam warah matullahi ta’ala Wabarakatuh.”
“Maaf ukhti. Mungkin saya mengganggu anda saat ini?”
“Oh tidak. Tidak. Justru saya senang mendengar suara anda.” Kata Misha’al dari balik telepon. Kata-kata itu membuat hati Ahmar berdesir. Sekaligus menambah kekuatanya untuk menyampaikan maksudnya.
“Maaf Ukhti. Apakah ukhti nanti malam memiliki waktu luang. Saya hendak...Mmm...” Ahmar ragu untuk mengatakan. Serasa ada kerikil di kerongkonganya.
“Baiklah saya tidak memiliki acara nanti malam. Bisa anda sebutkan di mana tempatnya?” Misha’al langsung memotong. Membuat Ahmar sidikit kebingungan.
“Emm.. oke baiklah. Kita bertemu di pantai Sedon, di hotel Morwick Stone lantai teratas.”
“Oke. Baiklah. Aku harap tempat itu adalah tempat terbaik di lebanon...” Misha’al tertawa renyah.
“Aku sendiri menganggap tempat itu adalah surga Lebanon...” Ahmar tertawa, disusul Misha’al.
“Baiklah. Sampai jumpa nanti malam.” Kata Ahmar.
“Fa InsyaAllah...” jawab Misha’al. telepon terputus. Misha’al merengguk hand phonenya di dada. Mencoba menenangkan degup jantungnya yang tak terkontrol. Ia merasa begitu bahagia hari ini. Sebuah telefon dari seorang yang amat di kaguminya telah mencerahkan hitam dalam jiwanya. Ia memejamkan mata. Mencoba meresapi rasa bahagia itu dari dasar hatinya.
Ahmar menunggu dengan hati bergetar diatas hotel Morwick Stone. Ia berada di atap tertinggi. Di bawah jutaan bintang. Ia telah memberi pesan kepada pihak hotel jika ada seorang perempuan bernama Misha’al agar mengantarkanya menuju tempat dimana dirinya berada.
Sepuluh menit menunggu terdengar langkah kaki menaiki tangga besi. Ahmar mengambil nafas panjang dan membalik tubuhnya. Tepat di saat pandanganya tertuju pada pintu besi, tampaklah di matanya seorang perempuan berjubah merah, dengan jilbab hitam tergerai. Jemari perempuan itu menjepit ujung jubah dan dengan perlahan melangkahkan kakinya mendekati Ahmar. Ahmar menahan nafas. Perempuan di depanya benar-benar serupa bidadari yang turun bersama lembutnya salju.
Beberpa saat tak ada yang bicara dari mereka. Degub jantung mereka sama-sama berpacu tak menentu. Ahmar menyadari kekeliruanya. Biar bagaimanapun juga seorang laki-laki yang harus memulai. Baru saja ia hendak membuka mulut, ia telah kehilangan kata yang akan diucapkanya. Kembali ia terdiam dan hanya suara deheman yang bergetar saja yang keluar dari mulutnya.
“hmm..aku rasa cuacanya dingin.” Ahmar membuka suara. Tapi dalam hati, ia merutuki kata-katanya. Bodoh sekali. Ini adalah musim dingin. Mengapa ia harus mengatakan kalau cuacanya dingin.
Misha’al tersenyum.
“Kamu sudah pernah melihat pemandangan pantai Sedon dari atas sini.?”
“Bukankah aku baru kali ini mengunjungi tempat seperti ini?” Kata Misha’al masih tersenyum.
“Ah. Iya. Bodoh sekali aku. Baiklah mari...” Ahmar mengajak Misha’al menepi.
Seketika hamparan pantai Sedon terlihat begitu menawan tersiram oleh sinar cahaya lampu-lampu kota. Jutaan salju turun meliuk-liuk. Membuat kota itu tampak seperti sapuan awan. Hati Misha’al benar-benar terharu mendapati dirinya berada dalam tempat seindah saat ini.
“Misha’al? kau tak apa?” Ahmar memandang lekat-lekat perempuan di sampingnya itu.
Misha’al memandang wajah Ahmar. Memandang mata jernih itu dengan penuh rasa kebahagiaan. Tak ada kata yang keluar dari mulutnya. Hanya seulas senyum mengembang dari bibir tipisnya.
“Pernahkah kau jatuh cinta sebelumnya?” Ahmar memulai pembicaraan tenang. Mereka menyangga tubuh dengan siku menempel di pagar pembatas. Sesekali Misha’al membenarkan letak jilbabnya karena terpaan angin yang berhembus.
“Cinta terlalu rumit menurutku,” Jawab Misha’al. “Aku sedikit membatasi berkenalan denganya....”
Ahmar tersenyum. Mengangguk pelan.
“Indah juga jawabanmu.”
Misha’al terseyum.
“Aku pernah mencoba membuat cerita,” Ahmar kembali berbicara. “Namun pada suatu waktu aku tak dapat menyelesaikan cerita itu... “
“Hm? Apa yang terjadi?” tanya Misha’al.
“Aku mengalami kemacetan dalam membuat akhir cerita. Karena aku tak bisa memaksa seorang karakter dalam ceritaku. Walaupun itu adalah ciptaanku sendiri.”
“Boleh aku tahu cerita apa itu? Maksudku engkau bisa ceritakan secara garis besar?” Kata Misha’al.
“Dalam cerita itu ada sepasang jerapah laki-laki dan perempuan.”Kata Ahmar. “Jerapah laki-laki adalah jerapah yang miskin dan sama sekali tidak memiliki pengaruh dalam kelompoknya. Sedang jerapah perempuan adalah jerapah terelok yang ada di desa itu. Ia memiliki bulu mata yang mengombak dan mata bening yang bagai kristal. Dia juga putri dari pemimpin para jerapah.”
Misha’al sedikit tersenyum. “Lalu?” Katanya.
“ Suatu kali jerapah itu berjalan-jalan di tengah hutan dan melihat seekor singa yang tengah mengganggu jerapah perempuan. Si laki-laki melihatnya. Tanpa pikir panjang jerapah laki-laki menyerang singa itu. Terjadi perkelahian sengit antara keduanya. Akhirnya singa memutuskan untuk meninggalkan kedua jerapah itu, meski singa belum dikatakan kalah.”
“Si perempuan mengucapkan banyak terimakasih dan ia memohon pada si laki-laki agar mau berkunjung ke rumahnya. Tapi si laki-laki besikeras menolak.Ia merasa rendah diri dan tidak pantas di undang oleh putri pemimpin jerapah. Akhirnya si laki-laki berbicara, ‘Jika engkau benar-benar hendak membalas budi, aku justru lebih merasa terbalas ketika engkau yang sudi berkunjung ke rumah kecilku’ kata si laki-laki_”
Yah. Di situlah aku tak bisa melanjutkan. Karena kurasa terlalu berlebihan jika si perempuan itu aku paksa menuruti kemauan si laki-laki miskin. Di sisi lain perempuan itu juga sangat mengharap balas budi.” Ahmar menutup ceritanya. Ia mengambil nafas dalam dan mengeluarkanya begitu perlahan.
Sedari tadi Misha’al terus menyimak cerita itu. Bibirnya terus menerus menyunggingkan senyum.
“Kenapa engkau tidak mengakhirinya dengan berkunjungnya si laki-laki ke rumah si perempuan?” Tanya Misha’al masih dengan senyum.
“Laki-laki itu tak punya keberanian. Karena ia merasa rendah diri. Dan itu memang kenyataan...”
“Kalau menurutku perempuan itu akan merasa lebih terhormat jika si laki-laki mau berkunjung ke rumahnya.”
“Kau bisa menjelaskanya untukku?” tanya Ahmar.
“Iya. Karena perempuan itu mencintai si laki-laki__”
Ahmar cepat menoleh ke arah mata Misha’al. Mereka saling bertatap satu sama lain. Tidak ada sepatah katapun yang keluar dari mulut mereka. Angin bertiup menggerakkan ujung-ujung rambut Ahmar. Bersiul merdu bergesekan dengan gedung-gedung yang mulai tenggelam dalam tidur.
“Mi..Misha’al,” Ahmar menatap mata Misha’al. sejenak ia ragu untuk mengeluarkan kata-kata. Namun degan terbata akhirnya kata itu telah mampu keluar dari mulutnya “A...Apakah engkau sudi jika aku meng-Khitbahmu...?”
Misha’al memandang lekat-lekat mata Ahmar. Mata Misha’al mulai berkaca. Jantungnya bergelora begitu hebat. Setitik air merembet dari ujung mata, meliwati lekuk pipinya yang selembut susu, dan terjembab pecah di atas lantai. Ia berpaling dari wajah Ahmar. Kedua telapaknya mencoba membendung air mata.
Ahmar diam seribu bahasa. Pertanyaan besar bergelayut di kepalanya. Namun tak berani ia tanyakan kepada Misha’al. ia biarkan gadis di sampingnya larut dalam tangis.
Sebutir salju meliuk-liuk di terpa angin. Terus meliuk menutupi bagian demi bagian kota lebanon. Kota itu terlihat putih bagai kapas. Terasa tenang bagai danau, dan terasa tentram bagai mentari sore.
***
Suara adzan subuh menggema di setiap relung kota Lebanon. Lantunan Adzan yang meliuk-liuk memecah subuh yang dingin.
Perlahan Ahmar membuka mata. Sejenak ia berkedip beberapa saat sebelum ia bangkit. Ahmar memandang jendela yang sudah putih seperti kapas. Salju terus turun perlahan. Pandanganya beralih kearah hand phone yang tergeletak di meja kecil di sampingnya. Sebauh lampu kecil berwarna merah berkedip-kedip di hand phone itu. Ahmar meraihnya. Ada sebauh pesan masuk dari Misha’al. Sejenak Ahmar ragu untuk membuka. Mungkinkah itu adalah jawaban dari pertanyaanya, Yang tadi malam belum mendapat jawaban? Atau Misha’al membangunkanya agar menunaikan sholat subuh? Atau hal lain yang belum ia pikirkan? Ahmar tak ingin berlama-lama dengan fikiranya. Ia segera membuka pesan itu.
Assalamualaika Ya Habibi...Rohmatullah Ma’ak...
Akhi Ahmar yang saya hormati. Aku berkata sesuai dengan apa yang dikatakan lubuk hatiku. Sejak aku melihatmu pertama kali di pesawat, aku telah merasakan sesuatu dalam dadaku yang belum pernah sebelumnya aku rasakan. Aku tidak yakin perasaan apa itu. namun hati kecilku berkata itu adalah benih-benih cinta yang diciptakan oleh Allah dalam diriku...
Aku semakin merasakan benih-benih itu dikala kita mulai saling mengenal. Mengenai kemashuran namamu, ketampanan yang terukir di wajahmu, kecerdasan yang engkau miliki, dan pengaruhmu di mata para mahasiswa dan para guru besar, sama sekali bukanlah menjadi alasan benih-benih itu untuk tumbuh di dalam jiwaku. Tidak wahai Ahmar. Aku tertarik kepadamu karena memang hatiku telah condong kepadamu. Dan hanya itu saja yang dapat kukatakan. Bukankah engkau juga pernah mendengar syair yang berbunyi: Idza maa kaanal qolbu Yaghmisu Fil Mahabbah...Fa Laa Yaku Alaihi Ayyajiida maa Qolah...Ketika sebuah hati telah tenggelam dalam cinta, maka tidak akan pernah baginya bisa mengungkapkanya dengan kata...
Ahmarku. Sungguh! Betapa hatiku begitu berbunga saat engkau mengucapkan kata-kata akan mengKhitbahku. Aku tak dapat menahan kebahagiaanku. Hingga aku larut dalam tangis bersama salju. Aku sama sekali tidak merasa berlebihan jika itu adalah sebuah kabar yang paling indah yang pernah aku dengar semenjak aku bernafas di dunia ini.
Tapi Wahai Ahmar. Sungguh hatiku tersayat saat aku teringat akan hal yang telah menggantung di pundakku selama ini....
Wahai Ahmarku...bukan berarti aku tidak dapat menerimamu. Bukan berarti aku menolak dengan apa yang engkau sampaikan malam tadi. Sungguh, demi Allah! menolak Khitbahmu adalah hal terbodoh dalam hidupku jika aku melakukanya...
Tapi Ahmar. Bukankah engkau tahu bahwa aku adalah seorang putri raja? Demi Allah! Jangan berfikir aku akan membicarakan masalah perbedaan status di antara kita! Sebersit pun otakku tidak memikirkan hal itu. Namun, Ahmar. Sudah menjadi tradisi bagi keluarga kerajaan, jika seorang putri, akan disandingkan dengan seorang lelaki yang telah ditentukan. Dan itulah bencana yang aku alami saat ini.
Ahmar... aku telah dijodohkan dengan seseorang yang di mataku adalah seorang iblis. Aku tidak menganggap ucapanku ini kotor. Karena memang seperti itulah kenyataan yang ada...
Wahai Ahmar. Sungguh! Aku dalam keadaan sangat tertekan saat ini. Dadaku terus bergemuruh karena merindukanmu. Namun dadaku juga bergemuruh memikirkan bencana itu.Sebab itu wahai Ahmar, yang hatiku telah terikat denganmu, aku tidaklah menolak Khitbahmu... namun juga aku tidak menerima Khitbahmu... Aku memohon kepadamu wahai Ahmar! Pahamilah maksudku. Untuk saat ini fikiranku seperti layaknya gurun pasir. Penuh dengan kekosongan dan fatamorgana yang terus menghantui.
Rasanya sungguh begitu mustahil kita untuk bersatu, mengarungi bersama indahnya bahtera keluarga. Namun, juga mustahil rasanya aku melupakanmu... Wahai Ahmar... Tolonglah diriku ini... Bantulah aku jika Engkau mencintaiku....
Di pantai As sihadeon aku menunggumu pagi ini wahai Ahmar. Kita bicarakan semuanya pagi ini... apakah kita akan bersama selamanya... ataukah kita akan berpisah selamanya.... biarlah deburan ombak menjadi saksi keputusan kita...
Wassalamu Alaikum.. Warahmatullahi Taala Eleika...
Jemari Ahmar bergetar membaca surat dari perempuan yang baru beberapa jam tadi ia lamar. Sejenak ia mendesah. Ia tak tahu akan melakukan apa. Dadanya masih bergetar merasakan nada-nada yang keluar dari isi surat Misha’al.
Suara Qiraat dari masjid AL-Madany membuatnya tersadar. Ia segera mengambil wudhlu. Memakai Ghamis warna kelabunya dan beranjak menuju masjid dengan fikiran yang bergemuruh.
Selesai melaksanakan Shalat subuh. Ahmar tidak segera kembali ke rumahnya. Ia bertemu dengan sahabatnya sejak kecil yang baru saja menyelesaikan studynya di Stanford University dalam bidang psikologi.
“Wahai saudaraku. Apa yang sedang kau pikirkan? Kenapa matamu sayu seperti itu?” kata Salim. Sahabatnya. Di lihat dari nada suaranya Salim sudah ingin mengatakan hal itu sejak pertama mereka bertemu tadi. Tapi mungkin Salim cukup segan untuk langsung menanyakan hal itu.
Ahmar mencoba untuk tersenyum. Biar bagaimanapun juga ia tidak bakal mampu menyembunyikan kekalutan jiwanya saat ini di depan sahabatnya. Dia tahu bahwa salim adalah lulusan terbaik ke empat di Stanford dalam bidang ilmu psikologi dan gestur.
Ahmar mendesah...
“Masalah umum wahai sahabatku. Masalah umum...” Kata Ahmar sedikit tersenyum.
“Hahaha...” Entah mengapa tiba-salim tertawa cukup keras. Ahmar tersenyum kecut. “MasyaAllah! Ternyata engkau juga bisa jatuh cinta wahai Ahmar...Hahaha....” Ahmar mengangguk di sertai sebuah senyuman. Kini ia mengakui kecerdasan sahabatnya. Tanpa sebuah pengulangan kata, Salim sahabatnya itu sudah langsung dapat memahami apa yang dikehendaki oleh Ahmar.
“Lantas apa yang membuat mata jernihmu menjadi sayu seperti itu wahai Ahmar?” tanya Salim selanjutnya.
Ahmar menceritakan seluruh liku-liku pertemuanya dengan Misha’al. Salim sempat sangat terkejut ketika ia mendengar nama Misha’al. Ia sedikit tak percaya bahwa temanya itu berkenalan dengan putri raja Saudi Arabia. Namun Ahmar tetap tenang. Toh jika ia bohong tentu Salim akan tahu.
Ia juga menceritakan pertemuan dirinya dengan Misha’al, tentang lamaranya, hingga pesan yang ia terima subuh tadi.
Salim merunduk takdzim. Ia tengah memutar otaknya untuk berpikir.
“Apakah hatimu sudah benar-benar yakin dengan perempuan itu wahai Ahmar?” kata Salim kemudian.
“InsyaAllah aku sudah yakin Salim.
“Atas dasar apa kau mencintainya? Apakah karena status sosial ia sebagai seorang putri? Atau karena kekayaan yang ia miliki? Atau apa?” tanya Salim dalam.
“Demi Allah!” sahut Ahmar. “Aku akan menutup wajahku jika aku memiliki niatan seperti itu. sungguh itu sangat memalukan. Baik di mata manusia maupun di mata Allah!” Suara Ahmad menekan.”Aku mencintainya karena... karena...” Ahmad memalingkan wajah. “Ah! Salim. Aku tak tahu karena apa aku mencintainya!”
Salim tersenyum. “Baiklah. Itu artinya kau memang mencintainya tulus dari hatimu. Karena seperti itulah cinta sejati; Menyandarkan perasaan kepada yang di cintai tanpa di dasari atas hal apapun...”
Salim menepuk bahu Ahmar, “Sahabatku. Alangkah baiknya engkau temui saja kekasihmu itu. dan bicarakan bagaimana kelanjutan hubungan kalian. Maaf, untuk saat ini aku tidak bisa memberi masukkan lebih banyak. karena bagaimanapun juga dia adalah seorang putri raja. Dan engkau pasti tahu, bahwa kehendak seorang raja tidak akan ada yang dapat menggoyahnya, jika menurut raja itu adalah yang paling benar.”
Ahmar serasa mendapat pencerah. Ia kembali dapat tersenyum lebar. Walau dalam hati masih tersimpan kegundahan. Ia segera undur diri dari sahabatnya. Tak terasa matahari sudah cukup lama berada dia atas ufuk timur.
Ahmar segera kembali ke rumah. Mempersiapkan diri untuk menemui Misha’al. sengaja ia tidak memberi tahu sang ibu. Karena ia berfikir, mengenai masalah demikian, tak seharusnya ibu dilibatkan.
***
Misha’al duduk termenung di sebuah kursi restoran Riviera. Matanya seolah tak berkedip memandang pantai yang menghamparkan lautan di balik kaca di depanya. Seorang pelayan memberikanya sebuah buku menu. Ia menerima dengan senyuman. Seolah tak terjadi apa-apa dengan dirinya saat ini. Saat ia membuka-buka menu, terdengar suara deheman di depanya.
Mishaal mengangkat wajah.“Ahmar?!” seru Misha’al tergagap. Ia segera menuding sebuah menu. Ia sengaja tidak memesan makanan. Misha’al hanya memesan Sharab Ward. Sebuah minuman yang berbahan dasar perasan bunga mawar khas lebanon. Minuman itu banyak di jajakan di pinggir jalanan di libanon saat bulan puasa.
Pelayan itu menawari Ahmar. Ahmar memberi isyarat jika pesananya tidaklah berbeda dengan Misha’al.
Selanjutnya pelayan itu segera beralih ke meja lain.
“Assalamualaikum Putri Misha’al...” Ahmar mengawali.
“Alaikassalam... Aku tidak begitu nyaman jika di panggil dengan kata putri oleh seseorang yang aku harapkan...” Misha’al tersenyum. Ahmar seketika saja bergetar mendengar apa yang dikatakan Misha’al. di tambah ia melihat senyum yang terukir di wajah gadis yang terbalut jilbab kelabu itu. beberapa saat Ahmar tak dapat bicara. Ia terlihat rikuh.
“Ahmar.” Misha’al memandang lekat mata Ahmar. “Apakah engkau telah benar-benar mencintaiku?”
Sejenak Ahmar terlihat kaget dengan apa yang di katakan Misha’al. Namun ia segera sadar bahwa perempuan di depanya memang bukan perempuan biasa. Ia adalah perempuan cerdas dan memiliki ketegasan.
“Apakah engkau masih butuh bukti wahai Misha’al? Aku akan melakukan apapun yang engkau minta untuk membuktikan perasaan yang ada dalam diriku...” Ahmar cukup serius mengatakanya.
Misha’al tertunduk dalam. Matanya mulai berkaca.
“Ahmar.” Kata Misha’al kemudian. Jemari putihnya menggenggam jemari Ahmar yang tergeletak di atas meja. “Aku tidak menuntut lebih darimu. Bertemu denganmu adalah nikmat yang entah bagaimana aku mensyukurinya....” Misha’al melepas genggamanya. Ia kembali terdiam merunduk. Entah apa yang ada dalam hati gadis itu. seoalah ia tengah memendam sesuatu yang sangat berat untuk di ungkapkan. Misha’al tampak gelisah.
Seorang perempuan berjilbab merah meletakkan secangkir minuman di atas meja. Sharab Ward dingin berwarna merah muda itu tampak membisu memandang Ahmar dan Misha’al.
“Ahmar...” Misha’al kembali memandang mata Ahmar. Matanya semakin berkaca. “ Maukah engkau mengikuti ku ke Arab Saudi. Aku akan membicarakan perihal kita kepada ayah. Aku berharap, sebuah keajaiban akan mampu merobohkan kehendak ayahku.”
Ahmar terdiam sesaat.
“Baiklah Misha’al. Alangkah lebih baik jika kita segera menuju Arab Saudi...”
***
“Sejak kapan kau berani membantah keputusan ayah!!!” suara raja menggaung di penjuru ruangan. Misha’al dan Ibunya diam tak berdaya. “Apakah ini yang kau dapat dari lebanon?! Hah?! Apakah Lebanon mendidikmu untuk menjadi durhaka!!!” Raut muka raja merah padam.
“Tapi, ayah... Lelaki yang ayah jodohkan memiliki perangai yang buruk. Aku tidak mau bersanding denganya...”
“Tabba Alaika!!!”
“PYARRRRR!!!....” Raja bertubuh besar itu kalap. Gelas yang sedari tadi membisu di depanya kini berubah menjadi puing-puing beserakan setelah genggaman sang raja menghantamnya.
Misha’al dan ibunya tersentak. Wajah mereka pasi. Tak sedikitpun kata keluar dari mulut mereka.
“Demi Allah! Tidak akan ada yang bisa merubah keputusanku...” Raja melangkah cepat. Tanganya yang besar, kasar membanting pintu di depanya.
Misha’al tertunduk. Pipinya penuh dengan air mata. Sang ibu memeluknya. Tak ada kata yang keluar dari mulut mereka.
***
Sehari setelah kejadian itu suasana kerajaan tampak tegang. Konflik yang terjadi dalam keluarga itu sudah menyebar dikalangan para pelayan kerajaan. Misha’al sama sekali enggan keluar dari kamarnya. Ia tutup rapat kamarnya dari dalam. Sama sekali ia tidak mengizinkan seorang pun untuk masuk. Termasuk ibunya.
Dalam diamnya Misha’al tengah memikirkan jalan keluar. Hatinya sudah bersumpah, bahwa ia tidak akan pernah sudi di nikahi oleh lelaki bejat itu. Ia telah menutup hatinya untuk Ahmar seorang.
Mata Misha’al yang redup tiba-tiba terbuka. Ia segera mengambil telephone. Jemarinya yang putih memencet beberapa nomor.
“Assalamuaaikum.”
“Waalaikum salam. Misha’al? Apa yang terjadi? Aku sangat menghawatirkanmu...?” Suara dari balik telefon terdengar gelisah.
“Wahai Ahmarku. Siapkah engkau berjalan di atas bara api?” Misha’al sesenggukan.
Beberapa saat suara Ahmar tak terdengar. Ia tahu bahwa Kekasihnya, Misha’al telah gagal mengajukan negosiasi dengan sang ayah. Raja Faishal.
“Misha’al...” Suara Ahmar parau namun dalam.”Apapun jalan yang akan kita lalui, sedikitpun aku tidak merasa ragu. Demi Allah, andai saja jalan itu mempertaruhkan nyawaku, niscaya aku akan tetap berjalan di atasnya. Misha’al. Aku siap menanggung resiko apapun.” kata Ahmar tegas.
Air mata Misha’al semakin deras mengalir.
“Ahmarku... Aku tidak mampu berkata apapun lagi. Semua kisah pasti ada akhirnya. Aku yakin kisah kita akan berakhir indah. Walau menyakitkan...” Misha’al mengentikan kata-katanya. Ia tak dapat berkata lebih. Hanya sesenggukan yang keluar dari tenggorokanya.
“Ahmarku...” Katanya kemudian. “Aku mempunyai sebuah jalan untuk kita berdua. Dan jalan ini akan sangat beresiko dengan nyawa kita. Dan ini mungkin hanya satu-satunya jalan bagi kita untuk membuktikan kekuatan cinta kita...”
“Katakan itu Misha’al... katakan saja. Kematian di mataku tidaklah menakutkan lagi...”
Misha’al perlahan menjelaskan rencananya kepada Ahmar. Ahmar menyetujui rencana Misha’al. Sedikitpun hati pemuda lebanon itu tak merasa gentar. Walau ia sadar, bahwa rencana yang baru saja ia dengar akan berahir mengharukan.
***
Satu minggu telah berjalan. Konflik kerajaan yang menyangkut sang putri dan sang raja masih hangat di perbincangkan di kalangan pegawai istana. Namun sekali lagi istana di buat geger. Bukan hanya istana, melainkan seluruh jazirah Arab, karena pagi itu sebuah surat kabar memberitakan bahwa putri Misha’al telah meninggal di danau Thabariyyah. Koran itu memberitakan bahwa Mayat Misha’al tidak di temukan.
Mendengar itu raja Faishal segera menuju kamar Misha’al. Betapa terkejut ia ketika kamar itu kosong tak berpenghuni. Tanpa pikir panjang raja Faishal segera menyuruh anak buahnya untuk mengusut kasus ini. Ia tahu bahwa ini adalah ulah putrinya. Dan ia yakin bahwa putrinya masih berada di Arab Saudi dalam keadaan hidup. Ibu Misha’al tak henti menangis. Berulang kali ia sebut-sebut nama Misha’al.
Tak berselang lama seluruh polisi telah melakukan pengusutan. Semua jalur transportasi baik darat, laut, dan udara telah dijaga polisi. Keadaan Arab Saudi seketika berubah menegangkan.
***
Jauh dari lokasi kerajaan, di sebuah hotel, Misha’al dan Ahmar tengah berada di puncak ketegangan. Sebentar lagi adalah penentuan dari segalanya. Jika apa yang mereka kerjakan berhasil, maka harapan-harapan indah akan terwujud. Namun jika ternyata rencana mereka mengalami sesuatu yang tak diinginkan, maka nyawa adalah resikonya.
Dua hari yang lalu, Misha’al menghubungi sahabatnya, yang menjadi pemilik sebuah surat kabar El Jaziraat, untuk membuat sebuah berita tentang dirinya yang telah meninggal. Sahabatnya itu tak dapat menolak permintaan Misha’al setelah Misha’al menceritakan semua kisahnya.
Selanjutnya Misha’al merubah dirinya menjadi seorang laki-laki. Ia memakai gamis yang biasa di pakai laki-laki Arab. Ia memakai kumis dan jenggot tebal. Apa yang dilakukan putri raja itu berhasil. Tak seorang pun dari para pekerja istana yang curiga dengan dirinya. Ia berjalan tegap layaknya seorang lelaki, melewati para penjaga istana.
“Baiklah Misha’al..” Kata Ahmar sedikit bergetar. “Jangan sekali-kali engkau bersuara di depan umum. Karena hanya suara itulah satu-satunya hal yang dapat membuktikan bahwa engkau adalah perempuan saat ini...”
Misha’al memejamkan mata. Mencoba menenagkan degub jantungnya yang setiap kali berdetak keras. Sebutir air mata mengalir di pipinya. Dalam batinya ia berpikir alangkah indah tuhan mentakdirkan dirinya dalam urusan cinta. Yang penuh dengan perjuangan dan pengorbanan.
Misha’al tersenyum. Ia mengangguk cepat. Ahmar mengusap air mata Misha’al. Ingin sekali ia mencium kening Misha’al. Namun segera ia buang jauh-jauh fikiran itu. Ia sadar, bagaimanapun juga perempuan jelita di depanya belumlah halal bagi dirinya.
“Baiklah, Misha’al. Takdir telah memanggil kita untuk segera menapaki jalan di depan mata kita...”
Kedua lelaki-yang sebenarnya salah satunya adalah perempuan- itu pun keluar dari hotel. Mereka berjalan persis layaknya dua orang laki-laki. Mereka tidak bergandengan tangan. Jarak mereka juga tidak terlalu dekat. Lalu lalang manusia sama sekali tidak memperhatikan mereka.
Misha’al dan Ahmar menghentikan sebuah taksi. Taksi itu segera meluncur menuju Air port King Abdul Aziz. Selama di dalam taksi tak ada percakapan di antara mereka. Untuk menghilangkan prasangka supir taksi, Ahmar dan Misha’al menutupinya dengan sibuk memainkan Handphone.
Bandara King Abdul Aziz penuh sesak dengan ratusan ribu manusia. Seorang polisi berpakaian coklat berdiri tegak di setiap sudut bandara dan juga tempat Ceck In berada. Mata polisi itu tak henti-hentinya menatap satu persatu calon penumpang yang tengah melakukan ceck in.
“Misha’al. Jangan sekali pun engkau menatap mata para polisi.” Bisik Ahmar. Misha’al menjawab dengan kedipan.
“Ilal Misra.” Ahmar menyodorkan dua buah tiket dalam tanganya. Petugas itu segera mengambil tiket di depanya dan melakukan scanning. Ahmar tak sedikitpun menolehkan pandanganya ke arah petugas, yang ia yakin tengah mengawasinya. Sejenak ia melirik Misha’al di belakangnya. Misha’al tengah sibuk dengan handphone. Ahmar sempat melihat dari sudut mata Misha’al bahwa kekasihnya itu tengah dalam keadaan tegang.
“Ya Akhi, Hadzihi Bitoqotuka...” Kata petugas itu menyodorkan tiket yang telah di scan. Ahmar meraih tiket itu dan segera berbalik.
Seorang turis perempuan berjalan tergesa. Berulangkali ia memandang tiket yang ada di tanganya. Turis itu seolah tengah mencari maskapai yang cocok dengan tiketnya.
Ahmar dan Misha’al berjalan tenang. Namun...
“Prakkk!”
“Astaghfirullah!” Misha’al reflek menjerit saat Handphone yang ia pegang terjembab setelah tersenggol turis itu. Misha’al segera menutup mulutnya. Beberapa pasang mata segera menatap tajam kearahnya. Raut muka Ahmar seketika pucat. Jantung Misha’al terpacu tak menentu. Beberapa saat tak ada suara yang keluar. Ahmar segera meraih lengan Misha’al. Cepat-cepat kembali melangkah.
“Ya Akhi!” Teriak polisi di belakangnya. Dada Ahmar seakan runtuh. “Berhentilah sejenak.” Kata polisi selanjutnya.
Ahmar tak mau ambil resiko. Jika ia lari, tentu saja semua akan terbongkar. Ia memilih menuruti apa yang di minta polisi. Dalam hati ia terus berdoa agar semua baik-baik saja. Misha’al berulang kali merutuk dirinya. Kenapa bodoh sekali ia tak menyadari jika ada seseorang yang kemungkinan besar akan menabraknya. Namun penyesalan bukanlah cara terbaik menyelesaikan masalah. Ia mencoba untuk tetap tenang dan tegar. Walau jantungnya kini bergemuruh.
Ahmar dan Misha’al menoleh. Menatap wajah polisi yang tengah berjalan ke arah mereka.
Polisi itu menatap Ahmar dan Misha’al bergantian. Tatapanya begitu tajam dan mengancam.
“Ma Ismuk?” tanya polisi kepada Misha’al.
“Khamaini” Jawab Ahmar cepat.
“Tidak. Tidak. Aku tidak bertanya kepadamu?” Kata polisi itu mengancam.
“Hey! Siapa namamu?” Tanya polisi lagi. Misha’al tak mampu berbuat apapun kecuali diam. Ia tahu bahwa diam adalah kesalahan besar. Karena itu akan mengundang kecurigaan polisi. Tapi menjawab juga sebuah kesalahan besar yang justru mengungkap semuanya.
Polisi berbadan tegap itu menatap cukup lama wajah Misha’al. sejauh itu Misha’al masih mampu menyaingi tatapan mata si polisi.
“Aku akan memegang jenggotmu.” Kata polisi.
“Demi Allah. Dimana sopan santun anda memegang jenggot orang lain?” Ahmar menaikkan suaranya.
Polisi itu berpindah menatap tajam Ahmar. “Sekali lagi kau bicara wahai orang asing. Penjara adalah tempatmu!”
Ahmar tak berkutik menerima ancaman sang polisi. Tampak sekali wajah Ahmar semakin pucat.
Polisi itu perlahan meraba jenggot yang dipakai Misha’al. Memilintir jenggot itu dengan kedua jemariny. Perlahan jemari polisi itu meraba ke bagian dekat pipi dimana di situlah sudut perekat jenggot berada.
Polisi itu menatap Misha’al semakin tajam ketika ia merasakan sebuah perekat di jarinya. Kemudian perlahan ia menyobek jenggot yang di pakai Misha’al.
Menyadari itu, Misha’al cepat menggenggam lengan Ahmar, menariknya mencoba untuk lari. Namun tangan polisi itu lebih dahulu menggenggam lengan Misha’al. Polisi itu segera berteriak memberikan kode bantuan. Kekacauan terjadi. Ahmar mencoba melepas genggaman polisi itu dari lengan Mishaal. perlawanan Ahmar sia-sia saat beberapa polisi lain mulai berdatangan dan segera melumpuhkan gerakan Ahmar.
Misha’al mencoba berontak. Namun sia-sia. Karena sudah ada tiga polisi yang memegangnya. Tangis Misha’al tak terbendung di saat para polisi itu mulai memisahkan mereka berdua
“Ahmar!!! Wahai, Ahmar!!!” . Berulang kali Misha’al menyebut nama Ahmar di tengah tangisnya.
Polisi-polisi itu terus menjauhkan Misha’al dari Ahmar. Misha’al sempat melihat Ahmar yang terdiam pasrah di tengah genggaman para polisi. Ia melihat mata kekasihnya itu berkaca-kaca, sebelum semuanya terasa gelap dan kosong...
***
Kondisi Arab Saudi semakin kacau, setelah hakim menuduh Misha’al dan Ahmar telah melakukan perzinahan. Tak ada yang dapat mengusik keputusan hakim tersebut. Karena keputusan itu sesuai dengan undang-undang di Arab Saudi yang berlandaskan hukum islam.
Arab Saudi memeiliki dasar hukum berlandaskan islam. Termasuk pembatasan antara pria dan wanita. Mereka memisahkan rumah makan antara pria dan wanita, mereka juga melarang para wanita menyetir mobil sendirian, kursi-kursi parlemen seluruhnya harus di duduki seorang laki-laki, sama sekali negara itu tidak mentolelir berkumpulnya laki-laki dan perempuan yang bukan mahram. Bahkan dalam hal pariwisata pun pihak pemerintah telah menentukan waktu khusus berkunjung bagi para laki-laki dan perempuan diwaktu yang berbeda.
Maka kasus Misha’al dan Ahmar sudah telak menjadi kasus yang cukup serius. Namun tuduhan itu belum sepenuhnya menjadi vonis. Karena dalam perundang-undangan negara, seseorang dapat di vonis berzinah ketika terdapat empat orang laki-laki yang menjadi saksi telah melihat dengan mata kepala mereka sendiri. Atau seseorang yang bersangkutan mengakui dirinya sendiri telah berzinah dengan mengatakan “Aku telah berzinah” sebanyak tiga kali di depan para hakim.
Pihak kerajaan menyadari itu. Berulang kali pihak keluarga, termasuk raja Faishal dan ibunda Misha’al membujuk putri satu-satunya itu untuk tidak mengucapkan “Aku telah berzinah” dalam persidangan terahir. Yang akan di laksanakan tiga hari mendatang.
“Jika engkau mengatakan itu di depan hakim. Maka kematian ada di depan matamu. Ayah tak bisa menolongmu wahai putriku. Tidak akan ada yang dapat menolongmu...” Raja Faishal berkata pelan. kali ini raja itu terlihat muram dan gelisah. Misha’al tak menjawab. ia tetap diam dengan pandangan kosong.
“Wahai putriku... wahai putriku... ingatlah ibundamu ini. Akankah engkau tega meninggalkanku sendiri wahai anakku...” Ibunda Misha’al tersedu di samping dirinya.”Putriku. Aku mohon.... jangan sampai engkau mengatakan telah berzinah kepada hakim... jangan sampai wahai putriku...” Perempuan itu memeluk Misha’al. Misha’al tetap diam. Tak sedikitpun ia mengeluarkan air mata atau kata-kata. Ia terdiam seribu bahasa.
***
Lima orang hakim dengan jubah putih lebar duduk berjajar di depan sebuah meja panjang pengadilan. Misha’al dan Ahmar duduk di sebuah kursi kecil tepat di hadapan para hakim.
Sorot mata kedua terdakwa itu terlihat tegar dan tajam. Mereka tidak saling menoleh satu sama lain. Seolah mereka tidak saling mengenal. Namun dalam hati masing-masing mereka merasakan gelora jiwa yang sama. Hati mereka menangis membayangkan betapa besar perjuangan yang harus di jalani untuk pembuktian sebuah cinta. Namun sama sekali tak ada ketakutan atau kekhawatiran di hati Misha’al dan Ahmar.
“AsyhaduAllaa Ilaaha Illallah....Wa AsyhaduAnna Muhammadar Rasulullah...”Seorang hakim yang duduk di tengah memulai persidangan. “Tidak ada sebuah hukum yang haq kecuali dari Alqur’an dan Assunah. Kita menjunjung tinggi agama Islam beserta hukum dan undang-undang yang termaktub di dalamnya. Dan bagi siapapun yang telah melakukan pelanggaran terhadap batasan-batasan yang telah termaktub di dalam Alqur’an. Maka baginya adalah hukuman yang seadil-adilnya.”
“Maka telah hadir di hadapan kalian semua. Saudara kita Mulhallal Syeir Ahmar dan juga Misha’al Al Eqylaty, atas tuduhan melakukan Fakhisah. Sesuai perundang-undangan yang telah ditetapkan, mereka akan di vonis berzina jika terdapat empat orang saksi laki-laki. Dan maha besar Allah yang telah menjalankan segala hal dengan kehendak-Nya. Tidak ada seorang pun yang melihat kedua terdakwa telah melakukan perzinahan. Maka dengan demikian, sumpah kedua terdakwalah yang akan menjadi keputusan terahir bagi hakim untuk memutuskan hukuman bagi keduanya...” Sejenak hakim itu mengambil nafas.
“Bismillahirrahman Nirrahim... Wahai yang terdakwa Misha’al. Berdirilah engkau, sebutlah nama Allah dan ucapkanlah persaksianmu....” Suara hakim terdengar dalam dan tegas. Raja Faishal beserta istrinya menatap Misha’al dengan degup jantung yang tak beraturan.
Perlahan putri Misha’al berdiri dari kursi. Suasana sangat senyap. Puluhan manusia di dalam ruangan itu menahan nafas.
“Asyhaduallaa Ilaa Ha Illallah...” Suara lembut gadis itu merayap ke segala penjuru dinding ruangan yang membisu. “Dengan menyebut nama Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang...” Misha’al menatap tajam Hakim di depanya. Ahmar duduk terpaku di tempatnya. Kepalanya setengah tertunduk. Tak sedikitpun ia menoleh kepada Misha’al yang berada di sampingnya.
“Saya. Misha’al Binti Faishal. Bersaksi...” Suara gadis itu menjadi lantang. Seoalah ia tengah berteriak di tengah gurun pasir.” Bahwa saya telah melakukan Zina. Saya bersaksi telah melakukan Zina. Saya bersaksi telah melakukan Zina!!!...”
Sektika ruangan itu bergemuruh. Jeritan-jeritan terdengar memilukan. Ibunda Misha’al sempat menjerit mengucap istighfar sebelum ia jatuh pinsan. Raja Faishal mentap putrinya dengan pandangan sayu dan pilu.
Hakim segera mengetuk palu. Tanda jika vonis tidak akan pernah dirubah. Selanjutnya hakim membacakan beberapa aturan hukuman dan membacakan vonis mati kepada Ahmar dan Misha’al. Sesuai dengan undang-undang, mereka akan menjalani hukaman mati pemenggalan kepala dalam waktu tiga hari ke depan.
Misha’al kembali duduk di kursinya. Ia tak dapat menahan gejolak kesedihan di hatinya. Betapa bayangan indah hidup bersama seorang lelaki yang begitu ia cintai telah hampa diterpa takdir. Bahu Misha’al berguncang. Matanya mulai basah. Misha’al mencoba menahan air mata dengan kedua tanganya. Namun sia-sia. Air matanya terus mengalir tanpa henti.
Ahmar memandang Misha’al dari sudut matanya. Melihat Misha’al tersedu membuat hati pemuda itu serasa tersayat. Sekuat tenaga ia mencegah air matanya agar tidak mengalir keluar. Ingin sekali ia memeluk Misha’al dan memberinya perlindungan. Memberikan kata-kata lembut agar kekasihnya tak lagi bersedih. Ah! Andai saja ada sebuah keajaiban yang dapat merubah segalanya. Andai saja ia dapat membelai Misha’al yang tengah tertunduk dalam tangis. Ah! Betapa hidup begitu aneh, penuh misteri dan liku-liku, betapa manusia begitu kecil berhadapan dengan takdir-Nya....
Misha’al dan Ahmar terisak dalam diam. Suara-suara istighfar dan tangis semakin menyelimuti ruangan yang tetap diam membisu...
***
Tidak ada yang dilakukan Misha’al setelah menerima vonis hukuman mati selain bertaubat dan beribadah. Di dalam sel ruang tahanan ia terus menerus berdzikir dan meminta kematian yang baik kepada dzat yang Maha hidup.
“Allahumma... wahai dzat yang menghidupkan dan mematikan segala apapun. Tiada daya bagiku menolak segala goresan takdir yang telah engkau tulis. Tiada keinginan bagiku selain engkau mematikanku dalam keaadan Khusnul Khatimah... Engkau, wahai Tuhan yang maha hidup. Yang tiada awal lagi akhir bagimu... Ampunilah segala kesalahan yang telah aku perbuat. Betapa banyak kesalahan yang kusadari atau tidak. Betapa seringkali hati ini melupakanmu. Wahai dzat yang maha indah... golongkanlah aku dalam golongan orang-orang yang selalu mengingat nama-Mu, golongan orang-orang yang engkau Ridloi...dan hanya kepada-Mu aku menyembah. Dan hanya kepada-Mu aku meminta pertolongan...”
Apa yang dikerjakan Ahmar juga tidak berbeda dengan Misha’al. Seluruh waktunya baik siang dan malam ia sibukkan dengan membaca Alqur’an yang telah ia hafal. Beberapa kali ia menangis di saat ia sampai pada ayat ancaman. Dan betapa rindu ketika ia sampai pada ayat janji kenikmatan. Ia rindu akan kemurahan-kemurahan yang telah Allah berikan bagi mereka yang senantiasa beribadah dan mengingat Allah. Bagi orang-orang yang mulut dan hati mereka selalu bergetar menyebut nama-Nya dalam keadaan terlentang, duduk dan berdiri.
***
Pagi ini akan menjadi sejarah besar bagi bangsa Arab. Sebentar lagi seorang putri kerajaan yang terkenal cerdas, jelita, sopan, dan berwibawa akan menghadapi kematian yang tragis.
Eksekusi dilakukan di Alun-alun kota. Sengaja diperlihatkan di depan umum agar menjadi suatu I’tibar bagaimana Arab Saudi tidak akan memandang sebelah mata bagi siapa saja yang melanggar batasan hukum syariat yang telah ditetapkan. Baik raja Faishal, Istrinya atau orang tua Ahmar tidak terlihat menghadiri eksekusi itu. orang tua mana yang tega melihat anaknya mati dengan mata pedang?!
Dua orang dengan tubuh besar tengah membaca beberapa ayat. Kepala mereka tertutup. Ratusan orang melingkari area yang hanya dibatasi dengan pagar besi melingkar. Banyak dari kalangan masyarakat yang tak kuasa menyaksikan apa yang bakal terjadi di depan mata mereka beberapa saat lagi.
Dan detik-detik yang mendebarkan itu telah tiba. Seorang berjubah putih berjalan perlahan memasuki area lingkaran. Misha’al dan Ahmar berjalan tertunduk di belakang orang berjubah itu. Tangan Ahmar dan Misha’al terikat di belakang. Pakaian mereka seluruhnya berwarna putih.
Lelaki dengan jenggot tebal berjubah itu memberi isyarah pada Ahmar dan Misha’al agar berjongkok. Keduanya mengikuti apa yang di isyaratkan lelaki itu. Mereka berjongkok dengan bertopang pada lutut. Tubuh mereka tetap tegak. Tak sedikitpun mereka terlihat gugup. Ratusan mata kini mulai banyak yang berkaca-kaca. Lantunan-lantunan takbir dan istighfar menggema menyelimuti area itu.
Lelaki berjenggot tebal memberi beberapa ceramah tentang penegakan hukum agama. Selanjutnya seorang petugas mendekati Ahmar. Petugas itu menanyai Ahmar tentang apa permintaan terahirnya.
“Asyhadu Alla Ilaa Ha Illallah...” Suara Ahmad tenang namun tegas. “Permintaan saya sebelum saya meninggalkan dunia yang fana ini adalah; Kuburkanlah mayatku di samping makam seseorang yang aku cintai karena Allah semata, Misha’al...” Petugas itu menoleh ke belakang. Seperti meminta pendapat para hakim. Kemudian Ia mengangguk. menerima permintaan terahir Ahmar.
Tanpa di sadari, air mata Misha’al kembali mengalir. Tubuhnya bergetar. Dadanya bergemuruh karena merasakan suatu gelora cinta yang sangat mendalam. Misha’al terus tersiak...
Petugas itu menutup kepala Ahmar dengan kain hitam. Seorang bertubuh besar, yang sedari tadi kepala mereka tertutup, dengan langkah mantab mendekati Ahmar. Sebuah pedang di tangan lelaki besar itu terlihat silau di bawah sinar mentari yang mulai meninggi.
“Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar...” Lelaki itu mengangkat lurus pedangnya ke arah langit. Tangisan-tangisan mulai bergemuruh. Misha’al semakin tertunduk. Air matanya semakin mengalir seolah tanpa henti.
Setelah mengucapkan beberapa ayat. Tangan kekar yang tengah menggenggam sebilah pedang itu terayun keras menukik di tengkuk leher lelaki yang tertunduk diam di bawahnya.
Naas! Mata pedang itu kurang tepat mengenai sasaran utama. Yaitu tengkuk. Mata pedang itu terlalu menukik ke bawah, menyayat pundak Ahmar. Darah segar menceruat membasahi pedang dan juga pakaian sang eksekutor.
“LA’ANALLAHU ELEIKA!!!” Misha’al menjerit melihat apa yang terjadi. Ia meraung-raung menyebut nama Ahmar. Berulangkali ia melaknat si eksekutor yang telah melakukan kesalahan paling fatal.
Namun eksekutor itu tidaklah berhenti dari pekerjaanya. Mengetahui kesalahan yang ia perbuat. Ia segera mengambil ancang-ancang untuk kembali menghantam yang kedua kali.
“DEMI ALLAH!!! DEMI ALLAH!!!” Misha’al berontak. Ia berdiri dan cepat berlari seperti hendak merobohkan sang eksekutor itu. Namun para petugas cepat menghadangnya. Misha’al terus berontak. Ia terus menjerit meneriakkan nama Ahmar. Suasana semakin memilukan ketika hampir seluruh manusia yang ada di sana meneteskan air mata. Tak terkecuali para polisi dan hakim. Namun tak ada yang dapat mereka perbuat selain merasa pilu melihat semua ini.
Dan dalam sekejap. Tubuh pemuda lebanon itu telah lunglai terhempas dalam genangan darah.
Misha’al tak kuasa melihat semua. Tangisnya tak lagi bersuara. Ia memalingkan wajah. Dan bebeara saat masih terus menangis dalam diam.
Namun tiba-tiba saja Misha’al mengangkat wajah. Betapa wajah elok itu kini terlihat muram dengan garit air mata yang mengalir. Matanya begitu sayu namun menyudut tajam.
“Demi Allah!” Desisinya pelan. namun cukup terdengar bagi seluruh orang yang memandangnya. “Segeralah kalian memenggalku...” Kata-katanya begitu datar dan menyayat.
Seorang petugas mendekatinya dan menanyai apakah permintaan terahirnya.
“Aku, Misha’al. Meminta kepada siapa saja yang menjadi saksi akan semua ini, Penuhilah permintaan seorang lelaki yang aku mencintainya karena Allah semata. Ahmar...” ()


Komentar
Posting Komentar