Cerpen: Mariatun


Oleh: Rogebi

    Aku tahu, bahwa setiap mimik ramah orang-orang di ruangan ini, adalah topeng belaka. Di balik topeng keramahan mereka tersimpan wajah-wajah menertawakan kami. Tapi mereka tak salah, memang kami pasangan paling menyedihkan yang patut di tertawai. Semua orang memang patut menertawakan aku. Bahkan aku sendiri juga patut menertawakan aku. Menertawakan diri sendiri. Hahaha...
Aku dan istriku, Mariatun, seperti sepasang besi karatan di tengah pilar-pilar berhias ukiran emas. Ku lirik istriku, pakainya seperti wanita tahun 70 an. Rasa-rasanya ia lebih pantas jadi istri bapakku dari pada istriku. Tanganya begitu kering dan kerempeng. Kalau tertawa giginya terlihat kuning. Apalagi bibirnya berlapis lipstik eceran 5000 rupiah. Warnanya sungguh diluar ekspektasi. Belum lagi dadanya. Istriku tak punya payudara. Kempes. Keriput seperti es Marimas plastik 500 an yang tinggal sepermpat. Nggambleh berkerut-kerut. Tapi tentulah, istri adalah cerminan dari sang imam keluarga. Sehingga aku tak perlu panjang lebar menilai diriku sendiri. Melihat konyolnya penampilan istriku, sekonyol itulah sesunggahnya aku.
"Sudah kubilang, kan?! lebih baik kita gak usah datang.." Bisik ku tanpa menghadap telinga pada Mariatun tercinta.
"Udah.. Reuni kan gak seminggu sekali. Gak sebulan sekali. Cuma setahun sekali, kok." Jawab Mariatun sebisa mungkin agar tak ada yang mendengar kecuali aku.
Kemudian Seorang lelaki tegap, berpakaian batik, dan juga istrinya yang cantik, menyalami kami. "Ini Salimun, kan?" Kata si lelaki kepadaku. Aku mengangguk. Aku dan Mariatun tersenyum.
Senyum palsu. Sepalsu senyum mereka kepada kami. Sejak pertama kami datang memang kami rasa belum ada yang tersenyum jujur kepada kami. Sadang kulihat, masing-masing dari mereka saling jujur dalam tersenyum. Ya hanya kepada kami saja mereka tak jujur. Dan kami, sengotot apapun untuk jujur kepada mereka, toh ternyata juga tidak bisa. Lagi-lagi aku ingin menertawai diriku. Hahaha...,,
"Tun," kataku pada si payudara kecil. Istriku. Masih dalam nada rendah. Serendah derajat kami. "Udah, Tun, kita cari posisi aman aja, yuk. Tak enak di sini. Terlalu mencolok kita." Pintaku.
Mariatun memang yang paling Perfect. Ia mengikuti saranku. Kami pun secara alamiah memilih tempat yang tidak terlalu ramai. Paling-paling hanya ada beberap sahabat jauh yang lalu lalang. Kemudian sekedar berjabat tangan dan mereka lekas berlalu untuk segera ngobrol dengan yang lain. Di tempat yang agak sunyi ini, aku dan Mariatun bisa berbicara agak keras. Agak normal. Tidak harus setengah bisik-bisik.
"Sehabis makan, pokoknya kita langsung pulang aja ya, Tun. Aku belum `ngarit`" Kataku. Mariatun mengangguk. "Iya. Aku juga kan, harus `ngentas` kerupuk." Katanya. Sebetulnya aku faham, bahwa mariatun juga segera ingin pulang. Mengenai ia mau mengangkat kerupuk yang di jemur, tentu aku sudah faham. Memang itu kebiasaanya setiap hari. Dan sepertinya, ia juga faham dengan diriku.

    Selesai acara, kami pun melakukan foto-foto. Aku dan Mariatun sebenarnya sudah bilang tak usah ikut. Tapi tetap kami dipaksa. Dan ketika kulihat hasilnya, toh percuma. Aku dan Mariatun tetap tak terlihat di dalam foto. `Nylempit` tertutup `orang orang besar`.

    Ketika aku dan Mariatun menyusuri  jalan Aspal untuk pulang, sepeda Onthel kami mengalami Problem. Rantainya putus. Terlalu sering dibuat mengangkut pakan sapi serta aktifitas sehari-hari. Sepeda ini sudah terlalu tua untuk menanggung beban hidup kami. Tidak ada alternatif lain kecuali Aku dan Mariatun harus jalan kaki. Kemudian mendekatlah sebuah mobil, Ternyata itu adalah lelaki baju batik tadi dan istrinya. Mereka saudara jauh kami. Mereka menawari kami tumpangan. Aku minta pendapat Mariatun. Ternyata ia memilih berjalan kaki. "Sambil olah raga." Kata Mariatun kepada dua pasangan baik hati tersebut sambil tersenyum.

    Aku teramat sedih melihat senyum Mariatun yang type ini. Mariatun yang kumus kerempeng ini, punya banyak Type senyuman. Aku semua suka. Tapi jangan yang type senyuman barusan ini.
    Aku tak suka. Itu membuatku sedih.  Membuatku tidak hanya ingin menertawakan diri sendiri. Tapi juga ingin menangisi diri sendiri.
Sesampai di rumah, Kubanting sepeda onthel busuk ini. BRAKK! "Lho, mas. Mas?" Mariatun bingung. "Kenapa, mas?"
"Melarat! Terus! Melarat terus! Sialan!!" Desisku di ruang tamu. Sambil mencari-cari barang untuk dibanting. Sungguh sialan kuadrat. Tidak ada barang apapun di rumahku. Kosong. Melompong. Sebelum aku semakin memanas, kudengar Mariatun terisak. Ia menangis. Duh, kekasihku menangis. Siapa yang tak luruh emosinya jika melihat kekasihnya menangis? Aku pun terduduk di kursi. Sialan Triple. Kursi dari kayu buatan tanganku sendiri ini ternyata mleyot. Hampir saja aku terjatuh. Sebelum ahirnya tanganku sanggup mengimbangi tubuhku. Mariatun melihat kejadian itu. Kulihat ia. Buru buru ia berpaling muka. Ia tetap terisak menangis. Namun Mariatun menahan tawa. Ternyata mariatun menertawakan kejadianku dan kursi mleyot tadi. Lucu. Lucu dan sedikit konyol wajah Mariatun. Aku pun tak kuasa untuk tidak menertawakan Mariatun.
Hahahaha... kami tak sanggup untuk tidak tertawa. Setelah beberapa saat tawa kami mulai reda, kami menyadari, bahwa kondisi kami bukanlah sial. Kami pun sepakat dalam diam untuk tetap dalam kondisi kami. Dan kami menikmati itu. Kami bahagia. Ku kecup kening Mariatun.

***

   Kulihat pucat sekali wajah Mariatun. Putih seperti beras. Kemudian ia muntah-muntah. Sebagai seorang suami, tentu aku khawatir. Setidak-menarik apapun istriku, dia tetaplah pujaan hatiku. Aku tak mau terjadi hal-hal yang tidak beres denganya.
"Kamu kenapa, tun? Keracunan?" Tanyaku. Meski aku ragu jika Mariatun keracunan. Sebab seminggu ini kami hanya makan kangkung dan nasi. Sejak kapan kangkung dan nasi beracun? Mariatun menggeleng lemah. Kemudian muntah lagi. Aku tak dapat berbuat apa-apa.
"Ya sudah. Kita ke puskesmas." Kataku. Aku rebahkan Mariatun di kasur kami yang penuh iler. Aku berlalu.
"Mau kemana kamu, mas?" Tanya mariatun.
"Mau mandi. Kita kan mau ke puskesmas." Kataku. Mariatun memandangku. Ia tersenyum lemah sambil menggeleng. Seolah ada yang tidak beres jika aku mandi. Ah, ada-ada saja sayangku Mariatun ini.
Setelah aku Mandi, aku segera membawa Mariatun. "Kok cepet, mas?" Tanya Mariatun.
"Iya. Kan gak ada sabunya." Jawabku. Ku dudukkan Istriku ini di boncengan sepeda Onthel.
Kasian sekali perempuan ini. Ia teramat kurus dan kering. Sebab suaminya tak mampu memberinya asupan gizi standart SNI. Dan sialnya, akulah suaminya. Tapi Mariatunku ini, ia tak pernah neko-neko. Ia tak pernah menuntutku. Bahkan hampir seminggu ini kami makan kangkung, makanan yang sama dengan makanan Babi di bali, Mariatun tetap sama. Tetap
murah senyum. Tak pernah cemberut apalagi komentar. Ia tetap Mariatun yang rendah hati dan sahaja. Tetap Mariatun yang saat pertama kali aku bertemu denganya di pasar. Ah, Mariatun.. Sayangku..
Sampai di puskesmas, sepeda onthel karatan ini kusandarkan di pagar. "Iya. Iya. Taroh situ aja, pak." Teriak si tukang parkir. Sepertinya ia bingung mau menaruh di mana kendaraan model seperti milikku ini. Memang cukup kurang ajar pihak puskesmas, mereka hanya menyediakan tempat parkir bagi mobil dan sepeda motor. Sedang sepeda onthel, tidak memeliki tempat pasti.
"Lha iya, lho, Tun, padahal kan onthel kita sama dengan mobil dan sepeda motor. Kok kita gak di suruh parkir di sana, ya?" Katakau kepada Mariatun saat kami berjalan menuju ruangan sambil ku tunjuk tempat parkir mobil dan motor.
"Iya, sama. Sama-sama besinya." Kata mariatun lemah setengah tersenyum. Aku tertawa. Cerdas sekali istriku Mariatun ini.
"Bapak Salimun.." Panggil seorang perawat. Antrian bergilir tiba kepadaku.
"Apa yang anda keluhkan?" Tanya perawat itu ramah. Aku suka. Perawat manis itu benar-benar jujur dalam keramahan.
"Ini, bu. Istri saya muntah-muntah. Masa iya, ia keracunan?" Ungkapku.
"Oh, mari, bu. Saya tensi dulu darahnya." Perawat itu dengan lembut menuntun Mariatun menuju kasur kecil. Tampak kontras sekali. Mariatun seperti rombengan. Sedang perawat itu begitu bersih, segar, dan rapih. Ah, aku jadi sedih dengan diriku sendiri. Sebelum perawat itu memeriksa Mariatun, tiba-tiba Mariatun menoleh ke arahku. Seolah ia tahu, bahkan merasakan kesedihanku. Mariatun memandangku sayu. Seoalah berkata, "Sudah lah, mas, kau jangan terus-terusan menyalahkan dirimu sendiri.." Aku tersenyum pada Mariatun.
Sekitar 10 menit di periksa, kami kembali duduk.
"Pak Salimun.." Ujar si perawat. "Istri anda tidak apa-apa. Istri anda sedang hamil muda.." Mendengar itu, beberapa detik aku dan Mariatun memandang si perawat. Kemudian ketika perawat tersenyum, aku dan Mariatun pun ikutan tersenyum. Aku merasakan getaran dalam tubuhku. Getaran bahagia yang sulit di ungkapkan. Kurasakan seolah aku kini berada di tengah stadion. Dan ribuan orang bersorak sorai kepadaku.

Kupandang lekat-lekat Mariatun. Ia juga memandangku. Mengenai wajah Mariatun, tetap sama. Tetap tak menarik. Tapi aku tak kuasa untuk tidak memandang istri tercintaku ini. Mariatun tersenyum. "Hamil, Mas.. Hamiil.." Katanya. Kulihat perawat itu, ia juga tersenyum. Bahagia. Aku pun juga tersenyum bahagia.
"Tun, kalau begitu, mulai sekarang biar aku yang ngurusin kerupuk. Kamu diam-diam saja di rumah, ya." Ujarku saat kami perjalanan pulang.
Aspal jalanan cukup rusak dan bergeronjal. Hingga oleng sepeda onthel yang kukendalikan ini."Duh, mas. Pelan-pelan.." Kata Mariatun. Dan aku berhasil mengendalikan sepedaku lagi. "Tak apa lah, mas. Kan bu bidan tadi juga bilang, kalau aktifitas-aktifitas kecil selama usia kandungan di bawah 8 bulan itu tak masalah.." Kata Mariatun saat jalanan sudah mulai halus.
"Iya, Tun. Tapi mas pengen kamu diam saja dirumah.." Mariatun diam. "Lho, kok diam, Tun?" Sahutku masih sambil mengendalikan sepeda.
"Kata siapa diam.. barusan aku tersenyum, kok." Katanya. Kami pun tertawa. Aduh, Mariatun..

***

   Perut Mariatun sudah semakin membuncit. Aku sebagai seorang bapak... maksudku calon, tentu harus mengerahkan tenaga dan fikiran lebih banyak daripada waktu-waktu sebelumnya. Meskipun sebetulnya yang kumiliki hanyalah tenaga. Sedang fikiran, sepertinya makhluk itu segan bersemayam di kepalaku. Dan apalagi di kepala Mariatun, jangankan fikiran, hal-hal lain pun tidak ada di kepala dia. Kecuali belas kasih dan senyuman. Di mana, kedua hal tersebut tidaklah membutuhkan fikiran. Melainkan membutuhkan perasaan. Ah.. Mariatun.. tak apalah kau tak ber-fikiran. Yang penting kau ber-perasaan. Itu sudah cukup buatku, sayang..

Mengingat hal itu, aku jadi kasihan dengan Mariatun. Tentu ia bosan di rumah sendirian. Hanya berteman dengan triplek dan dipan. Ah, aku ingin memberinya hadiah. Agar istri tercintaku tak bosan.
"Hoe! Moun! Semen! Semen! Nglamun, aja!!" Teriak Kamto di atas sana. Aku tergagap. Segera ku angkat semen di atas punggungku, kemudian ku letakkan di sebuah papan kerek. Lantas aku tarik sebuah tali tampar di dekatku, dan naiklah se karung semen itu.
"Koral Moun! Koral juga!" Teriaknya. Aku segera menyerok tumpukan koral dan memasukkanya ke dalam timba besar. Kemudian untuk menaikkanya ke atas, sama seperti aku menaikkan semen tadi. Namun saat setimba besar berisi koral itu sampai di tengah-tengah udara, posisinya bergeser dari papan kayu yang menjadi tumpuanya. Dan terus meminggir, sebelum ahirnya timba dan koral-koral di dalamnya terjatuh dan rontok. Secara alamiah, aku reflek menghindar.
"Buangsat!! Hahahaha... Kau tak apa Moun?!" Teriak Kamto dari atas sana.
"Hahaha.. Aman! Aman!" Ku arahkan jempol tanganku ke arah Kamto. Kamto terbahak dan berteriak, "Lain kali kalau seperti itu, kau tak usah menghindar moun!! Hahaha.."
"Siapa takut?! Asal kau dulu yang mencobanya!" Sahutku. Aku, Kamto, dan kuli kuli lain, tertawa keras.

***
    Ini adalah hari Sabtu. Hari dimana para kuli mendapat bayaran. Kini di kantongku tersimpan uang 350 ribu. Hasil kerja selama seminggu. Ku sisihkan 100 ribu, kutabung yang nantinya digunakan untuk biaya kelahiran anakku, biaya selamatan, dan biaya Aqiqahnya. Kemarin Pak Yai Sokeh bilang, bahwa setiap anak yang di Aqiqohi, nanti di Ahirat bisa menyelamtkan bapaknya kalau-kalau si bapak terpeleset saat di sirotol mustaqim dan jatuh ke neraka. Aku ingin anak ku bisa menyelamatkanku.
Kemudian yang seratus lagi, nantinya ku serahkan Mariatun. Sebagai modal makan seminggu. Dan, Ahai. Sisa 50 ribu, aku belikan alat-alat rajut sebagai hadiah buat Mariatun. Mariatun kan ahli sekali merajut. Meskipun aku kadang ingin tertawa jika melihat hasil rajutanya. "Itu gambar telur di goreng ya, Tun?" Tanyaku dulu. Saat pertama melihat hasil rajutanya. "Ah, mas, ada-ada saja.
Itu kan bunga. Bunga Matahari. Bunga Matahari kan kuning, mas." Katanya. Aku pun tertawa. Ternyata bunga matahari jika dirajut seperti telur goreng.
Aduh, aku tak sabar ingin membelikan alat-alat rajut untuk Mariatun. Aku tak sabar ingin melihat karya fantastis apa lagi yang akan istriku ciptakan. Mungkin ia nanti akan membuat bebek berkepala jerapah, atau kura-kura berkaki kambing.. hihihi sudah ah, kenapa aku yang jadi mikirin itu. Yang jelas, Aku tak mau Mariatun bosan di rumah, aku tidak mau, Mariatun yang tidak cantik itu lesu. Dan, Pasti dia nanti akan kaget. Kemudian ia berlagak sok manja, sok cantik. Hihihi, Duh.. Mariatun.. sayangku..
 
    Seperti yang aku katakan sebelumnya, Mariatun bersemu merah pipinya tatkala melihat alat-alat rajut dan gulungan-gulungan benang di kresek yang kubawa. Ia tersipu. Seperti tak punya kata untuk membalas kebaikan sang suami yang penuh dengan kejutan dan perhatian.
"Tak usah menciumku, Tun. Aku belum mandi." Godaku. Ia terkikik.
"Assalamualaikum." Tiba-tiba kudengar suara di depan. Setelah kulihat, ternyata Kamto. Tumben sekali Kamto ke rumahku.
"Silahkan. Silahkan, To. Setelah bersalaman, aku kebelakang untuk membuatkan kopi temanku itu. Sekalian menunggu air mendidih, aku mandi. Selesai mandi, tak lupalah aku untuk sholat dan berdoa. Berdoa untuk Mariatun dan seonggok daging dalam perutnya. Calon anak ku.
"Bagaimana, To? Sepertinya ada keperluan.." Tanyaku sambil menghidangkan kopi.
Kamto tersenyum mengangguk. "Eh, Mun, apa kau tak punya sarung lagi, ya? Sarung kok kayak klaras gitu." Katanya sambil menuding sarungku. Aku tertawa. Kamto memang sering membuat lelucon aneh-aneh kepadaku.
Setelah di rasa cukup basa basinya, ahirnya Kamto mengutarakan maksudnya untuk meminjam uangku. Ia butuh 500 ribu. "Anakku kena tifus Mun. Ngamar di Rumah sakit."
Aku bingung mau meminjaminya uang. Sebab kira-kira dua bulan lagi Mariatun sudah melakukan persalinan.
"Aku tanya istriku dulu ya, To." Ucapku. Aku segera ke kamar. Baru saja aku masuk kamar, Mariatun langsung berbicara setengah berbisik kepadaku. "Pinjamin, Mas. Pinjamin. Kasian. Dia kepepet." Kata Mariatun. Aku pun berpikir sejenak. Mengingat bagaimana sulitnya aku mencari pinjaman saat aku kepepet. "Mas. Mas. Kok malah diam?" Mariatun menyadarkan sekilas lamunanku. Segera ku ambil celengan uangku. Di sana sudah ada setidaknya 1 juta dua ratus.
Ku ambil 500 ribu. Dan ku serahkan kepada Kamto. "Ini kira-kira dua minggu lagi Mun aku bisa mengembalikan. Ya.. kalau enggak sebulanan lah. Aku faham Mun. Kamu pasti juga butuh uang untuk lahiranya Mariatun, kan?" Kata Kamto. Saat ia berkata demikian, Mariatun tiba-tiba muncul di sampingku. "Apa gak kurang, mas, Kamto?" Ucap Mariatun.
"Eh, mbak.. Ah, InsyaAllah ini cukup kok. Tadi istriku juga sudah jual kalungnya. InsyaAllah cukup kok."
"Oh, iya. Iya. Tak usah sungkan sungkan, Mas. Kalau butuh apa-apa." Kata Mariatun. Kamto terlihat sangat-sangat berterimakasih. Ia pun pamit undur diri. Ketika Kamto sudah tidak terlihat lagi, Mariatun memandangku.
"Mas, sudahlah, kita memang sulit kalau kita mau cari utangan. Sebab orang-orang tak begitu percaya dengan kita. Mereka takut kita gak kuat nyaur." Kata Mariatun. Sepertinya ia benar-benar tau apa isi hatiku. Iya, Mariatun tahu. Aku memang memiliki pikiran seperti itu. Bukan masalah nominal hutang yang membuatku berat memberikan hutangan. Tapi lebih ke balas dendam.
Sebab saat aku dan Mariatun kepepet, kami benar-benar sulit, di tambah sangat, untuk mencari hutangan. Hal itu mengingatkanku pada kejadian saat aku dan Mariatun baru menjadi pengantin sekitar tiga bulan. Aku sama sekali tak memiliki pekerjaan. Lowongan nguli sepi. Lowongan cetak batako, atau resplang juga sepi. Petani juga gagal panen, hingga untuk sekedar menjadi buruh pengangkut hasil panen pun tidak ada. Mula-mula aku dan Mariatun tak sanggup beli bumbu. Kemudian tak sanggup beli beras. Kemudian cincin emas kawin kami, maksudku milik Mariatun, sebab milikku sudah ku jual dahulu buat beli gedek sebagai rumah, terpaksa kami jual. Itu pun hanya bertahan 1 bulan. Setelah itu kondisi kami mepet kembali. Saat itulah aku mencari hutangan di hampir 40 rumah. Jawaban mereka berbeda beda, namun semakna, "Kami juga lagi butuh uang." Setidaknya itulah jawaban inti semuanya. "Biar, Mas.. mereka tidak salah. Mereka memang butuh. Ini memang `Laep` (Paceklik)" Kata Mariatun waktu itu untuk meredam emosiku. Ahirnya aku dan mariatun sepakat untuk mencari kangkung, pakis, genjer, dan semacam-semacamnya. Dan hampir dua bulan kami makan daun-daunan itu tanpa nasi. Dan Maritun tak pernah mengeluh sedetik pun. Bahkan setengah detik. Bahkan setengahnya setengah detik, tak pernah aku dengar Mariatun mendesah kesal ataupun menggerutu. Mimik wajahnya juga tidak menunjukkan hal itu. Ia tetap tenang tenang saja. Wajahnya tetap jelek tapi teduh dan sahaja. Aku tak melebih-lebih kan. Memang begitu Si Mariatun kesayanganku itu. Maka, saat itulah aku tahu, bahwa Mariatun adalah wanita Perfect. Wanita Super. Bahkan SuperGirl yang memiliki kekuatan luar biasa itu, aku yakin kalah dengan Mariatun. SuperGirl tentu tak pernah makan Genjer dan garam saja. Dua bulan berturut-turut lagi.

    Waktu terus berjalan. Terasa lambat bagiku. Sebab tak sabar menunggu. Menunggu jabang bayi yang tengah bersemayam di perut istriku. Hari-hari kulewati bersama Mariatun. Selesai kerja, kadang aku mengajak Mariatun makan bakso, kadang hanya sekedar duduk di dekat rel melihat sepur. Aku dan Mariatun selalu bermusyawarah untuk membeli perlengkapan perlengkapan menyambut sang buah hati. Kemudian kami belanja bersama. "Aduh, Mas. Sakit. Pelan pelan." Ringik Mariatun saat kami di jalan geronjalan. "Ini sudah paling pelan, Tun." Kataku. Aku pun sadar bahwa perut Mariatun semakin membuncit. Besoknya, aku memiliki ide briliant. Ya, ku sulap boncengan sepedaku yang sebelumnya hanya besi mentah, menjadi berlapis spon. Empuk sekali. Aku pesan kepada juru sadel langsung. Awalnya juru sadel tersebut agak kebingungan.
Namun setelah aku beri beberapa arahan dan wejangan, jadilah boncengan itu menjadi sedemikian empuk dan nyaman. Aku bahkan sempat merasakan. Aku pulang ke rumah sambil duduk di boncengan. Ah, nyaman sekali. Aku tak sabar untuk melihat senyum Mariatun saat ku bonceng. Dan saat sampai di rumah, aku tutup mata Mariatun. Aku ingin boncengan spon itu menjadi surprise di mata Mariatun. "Apa sih, Mas. Ada apa? Pakai tutup-tutup mata segala?" Katanya dengan genitnya. Aku melihat hal-hal demikian di televisi. Saat melihat sinetron di pos jaga malam hari. Dan ketika ku buka tanganku dari mata Mariatun, Mariatun terbelalak. Ia tak habis pikir. Mariatun tertawa sambil memegang perut. Dari pancaran wajahnya ia amat gembira melihat boncengan yang kini berwarna kuning cerah dan empuk itu.
"Aduh, mas. Sepertinya boncengan itu dan harga sepedanya sama.." "Hahahaha.." Aku tertawa. Sialan. Mariatun ngelawak.
"Iya, tun. Biar kamu gak jerit-jerit terus di geronjalan.." Kataku. "Tapi nanti pas `babaran` (Persalinan) aku sewakan mobil ya, Tun." Ujarku.
"Ah. Gampang, Mas.." Katanya ringan.
Hari berganti bulan, Semakin tua kandungan Mariatun, semakin banyak permintaan Mariatun yang aneh-aneh. "Aku pengen nasi pecel yang penjuualnya orangnya sudah tua banget, mas." Katanya. Namun aku faham, Mariatun tengah Ngidam. Kata pak yai Sokeh, "Orang hamil, orang ngidam itu memiliki dua jiwa dalam satu jasad. Jadi kadang yang ingin itu bukan ibunya, tapi jiwa yang dikandungnya. Ya namanya jiwa anak-anak, pasti aneh-aneh. Belum lagi jiwa perempuanya, ibunya, itu kan juga lumayan aneh-aneh sebenarnya. Jadi ada dua jiwa aneh yang bergabung, jadilah aneh kuadrat." Kata Kyai Sokeh. Aku jadi paham. Paham betul. Maka dari itu, aku turuti semua permintaan Mariatun. Kadang ia ingin mencium bau ketek ku. Kadang kala tiba-tiba Mariatun ingin es Batu dan kecap. Ah, aku tak habis pikir. Ku turuti semua permintaanya.
Kata pak Yai sokeh juga, "Jangan lupa kamu suruh istrimu sering baca Qur`an dan sholawat. Biar anakmu terhindar dari saitonirojim. Sebab layaknya tanaman, kamu sudah menanam biji, tinggal gimana kamu merawat tanahnya. Ya istrimu itu tanahnya. Kalau enggak kamu rawat, nanti yang tumbuh malah rumput duri, sedang bijimu, tertindih duri-duri.." Iya. Betul. Betul sekali Pak Yai Sokeh. Dan setelah ku sampaikan itu, mariatun menghabiskan waktu-waktunya untuk membaca Alqur`an dan Sholawat. Bahkan aku pun jadi ketularan.

    Hingga di suatu dini hari, Mariatun merintih kesakitan. Rok yang di pakainya basah. Aku tau itu. Air ketuban. Berarti Mariatun sebentar lagi mau melahirkan. Lekas ku angkat Mariatun ke atas sepeda. Dan dengan tehnik, serta kelihaian yang kumiliki, kucoba sebisa mungkin mariatun tidak merasa tambah kesakitan saat ku bawa ke rumah bu bidan. Saat di rumah bu bidan, aku segera mengetok pintunya. Keluarlah bu bidan dengan wajah yang masih basah sehabis di basuh. Dan mimik muka yang masih mengantuk. Namun ia sangat ramah. Bahkan ia segera menelfon seseorang, dan seseorang itu kemudian membuatkanku kopi. Aku dipersilahkan oleh bu bidan untuk Menemani persalinan Mariatun. Bu bidan dan seorang perempuan yang ia telfon tadi, tengah menjalakan tugasnya. Sedang Mariatun, mengerang-erang sambil menangis. Aku tak tega melihat Mariatun seperti itu. Kelihatanya memang sangat sakit. Kubaca doa apapun yang kuhafal. Mariatun terus mengerang sambil tanganya menggenggam telapak tanganku.
    Keringat dingin mengalir di kening Mariatun. Aku tak tahu apa yang harus kulakukan kecuali mengusap keringat Mariatun. Kemudian sekitar 10 menit, pecahlah sebuah tangisan yang melengking, tangisan sebuah insan yang baru saja menyambut hawa dunia. Tak lama setelah itu, adzan subuh berkumandang. Namun aku ingat kata pak Yai Sokeh, bahwa setiap anak yang lahir seyogyanya si bapak mengadzaninya. Bu bidan dan partnernya tersebut tersenyum puas dan bahagia. Mereka berkeringat juga. Selanjutnya bocah mungil buah hatiku tersebut masih sambil menangis di bersihkan dari darah sisa perjuanganya menuju dunia. Aku jadi faham, manusia sejak lahir pun pada dasarnya sudah berusaha. Sudah bertaruh antara hidup dan mati. Dan akan seperti itu sampai ahir hayatnya. Sampai sebuah kepastian takdir menghampiri. Setelah bersih, aku di persilahkan menggendong dan mengadzani buah hatiku. Kupandang bayiku ini, ia kecil sekali. Imut sekali. "Lihatlah, Tun. Tangan bayi kita seperti tangan Bayi." Kataku kepada Mariatun. Mariatun melengos sambil tertawa.
Namun tiba-tiba Mariatun seperti meringis kesakitan. Dan bu bidan, serta partnernya, tiba-tiba menampakkan wajah tegang. Kemudian lekas mendekati Mariatun. "Pak Salimun. Lebih baik anda keluar dulu, ya. Istri anda mengalami pendarahan."
Dadaku sesak. Ku pandang Mariatun. Ia menatapku lamat-lamat dengan pandangan kosong. Aku bergetar sambil keluar ruangan. Fikiranku tak karuan. Ada apa ini? Aku merasa ada sesuatu yang tiba-tiba menghantam dadaku. Aku sama sekali tak tenang, Sebelum bu bidan itu keluar dan mengabarkan kepadaku sebuah kabar yang membuatku tersimpuh.

***
    Setelah pemakaman Mariatun, Salimun menjadi lebih pendiam. Namun ia lelaki yang tegar. Ia jarang tertawa terbahak. Ia akan tersenyum jika mendapati lelucon. Ia merawat buah hatinya dengan penuh sayang dan perhatian. Sesayang ia kepada ibunda si bocah tercinta. Ketika buah hatinya sudah mulai bisa berlari, Salimun sering mengajaknya bermain-main dan jalan-jalan.
Seiring berjalanya waktu, boncengan kuning itu semakin kusam dan mulai bolong. Anak Salimun tumbuh sehat. Ia cekatan, gesit, dan pandai. Salimun membelikan anak itu beberapa kambing, lantas mereka akan menggembalakan kambing itu bersama. Saat anak Salimun beranjak remaja, Pak Kyai Sokeh menyarankan agar anaknya di masukkan pesantren. Salimun agak berat berpisah dengan sang anak. Namun karena kecintaanya dan kepercayaanya pada Kyai sepuh itu, ahirnya ia menjalankan saran pak Kyai. 15 tahun Salimun berpisah dengan anaknya. Di waktu 15 tahun itu, Salimun mengisi waktu-waktunya dengan menggembala kambing dan semakin aktif mengikuti Pak Kyai Sokeh. Di saat yang bersamaan dengan umur Salimun yang menua. Saat anaknya pulang dari pesantren, Pak Kyai sokeh menjodohkan anak Salimun dengan seorang perempuan desa yang juga lulusan pesantren, anak seorang petani yang juga sering ikut Pak Kyai Sokeh. Salimun juga kenal dengan ayah gadis calon istri anaknya itu.
Salimun semakin menua. Anaknya dan menantunya membuat rumah persis di samping rumah Salimun. Rumahnya juga persis. Terbuat dari gedek bambu. Salimun sangat sayang kepada menantunya. Sesayang ia kepada anaknya. Sedang anaknya dan menantunya, tak henti-hentinya membantu Salimun. Mereka yang mencukupi sandang pangan Salimun. Meski Salimun sudah melarang mereka, namun mereka bersikukuh agar mereka saja yang bekerja.
Hingga di sebuah pagi yang cerah, salimun bercerita kepada anak dan menantunya. "Tadi malam aku liat ibumu. Dia berubah.." Salimun terbatuk dan setengah tertawa. " Dia manis sekali. Wajahnya terang. Dia bilang, kapan aku menemuinya?" Salimun berhenti. Kemudian ia tersenyum. Seolah tengah memutar kembali Flashback cerita lamanya dengan Mariatun.
"Aku sebenarnya tak henti-henti rindu ibumu, nak. Ibu kalian." Salimun terbatuk dan tertawa.
Kemudian terlihat Salimun mengambil nafas dalam. Kembali ia bernafas. Semakin dalam. Dan semakin dalam. Kemudian tak terdengar lagi hembusan Nafasnya..
Salimun telah wafat. Menyusul sang istri, Mariatun.. []

Komentar

Postingan Populer