Zhafira



               
                 


Oleh: Rogebi

   Sinar mentari pagi menyapu dedaunan, meraba setiap jengkal pasir Baghdad, menyapu setiap atap rumah, merubahnya menjadi sapuana emas yang menawan.
                Rumah-rumah berbentuk kubus terjajar rapi membentuk sebuah garis lurus. Dinding-dinding berwarna coklat muda begitu mempesona berpadu dengan mentari keemasan. Sebuah pagi yang elok untuk daerah pedesaan Baghdad. Perempuan-perempuan kerepotan memandikan anak-anak mereka. Para laki-laki tengah sibuk menyiapkan pelana kuda dan Bighal untuk mengangkut dagangan. Suasana desa begitu hidup dan menentramkan.
                Namun di balik semua itu, seorang gadis tengah berdiri mematung di balik sebuah jendela dengan lubang-lubang berbentuk wajik. Mata gadis itu tak sedetikpun lepas menatap jalan berdebu di balik pagar rumahnya. Jantungnya berdebar menunggu seorang yang telah menyita separuh hatinya.
                 Dari celah-celah jendela, sinar mentari perlahan meraba pipi lembut si gadis bergaun merah itu. Terus merembet menuju hidung hingga membuat hidung mancungnya  seperti ujung pedang. Mata gadis itu mengerjap. Bulu matanya bergerak-gerak lemah bagai ombak laut di waktu senja.
”Oh!” gadis itu memekik. Memperlihatkan rentetan gigi putihnya. Bagai intan di atas kaca. Lelaki yang ia tunggu sejak subuh tadi telah nampak di matanya. Tengah berjalan tenang menundukkan kepala.
Gadis itu mengatupkan kedua tanganya di depan bibir. Seolah tak rela jika bibir yang melandai indah itu terlihat oleh bunga-bunga Waroudhy     yang terpaku di sampingnya. Bunga merah itu seakan menyatakan kalah atas keelokan gadis bermata rembulan itu.
                Ia segera berlari menggapai kerudungnya. Warna kerudung  itu serupa dengan warna jubah yang ia pakai. Ia menutup rambut coklat keemasanya yang bergelombang.Tak lupa, sebuah cadar berwarna hitam segara menutup bibir merah delimanya.  Ia meraih sebuah botol kecil.  Jemarinya yang lembut tampak berkilau menyentuh minyak misik dalam botol itu. Dan lantas meratakanya ke sekujur tubuh. Sejenak ia memejamkan mata menyelami kenikmatan wangi misik Baghdad.
Tubuhnya memutar kearah samping. Menghadap sebuah kaca besar dengan bingkai ukiran-ukiran kaligrafi. Jemarinya memegang ujung-ujung jubah. Sedikit ia putar tubuhnya kekiri dan kekanan.
Dan sempurna sudah. Kini gadis itu bagai bidadari langit yang sengaja menghadap cermin untukmelihat keindahanya. Hanya kedipan mata itu sajalah yang menunjukan bahwa ia masih manusia.
                Ia berlari tergesa menuruni tangga.
“Wahai Shafira, putriku. Tak bisakah engkau berjalan perlahan?” teriak seorang perempuan dari ruangan belakang. Shafira tak menghiraukan. Ia terus tergesa menuruni tangga.
“Hendak kemanakah anda wahai tuan?” kata seorang perempuan paruh baya. Sepertinya perempuan itu adalah pembantunya.
“Aku tidak akan lama.” Shafira menjawab singkat. Ia terus berjalan, membuka pintu besar yang terbuat dari kayu Hu’khu’ dan terus berjalan menuju tepi jalan.
                Jalanan sudah lengang. Hanya ada lelaki itu saja yang terus melangkah perlahan sambil menundukkan kepalanya. Tinggal dua rumah lagi lelaki itu akan sampai di depan Shafira. Pemuda berjubah putih itu sedikit mengangkat wajah. Hati Shafira berdesir. Layaknya pasir lembut yang tertiup sepoi angin. Betapa indah wajah itu. Begitu bening bagai bulan. Begitu serasi dengan tubuh gagahnya. Seolah ia adalah panglima perang yang tak akan gentar walau ribuan pedang berkecamuk di atas kepalanya.   
Tanpa sengaja mata pemuda  itu bertemu dengan mata Misaha’al. Oh... andai saja wajah gadis itu tak tertutupi oleh cadar, niscaya jutaan pasir dan dedaunan akan melihat betapa pipi gadis itu tengah merona saat ini. 
                Lelaki itu cepat-cepat menundukkan kepala. Hingga Imamah yang ia pakai tergarai menutupi wajahnya. langkahnya semakin terlihat cepat.
“Hasan!” teriak Shafira sedikit pelan. Saat pemuda itu tepat di depanya. Hasan terus berjalan.
“Wahai Hasan. Berhentilah sejenak!” Shafira kembali menekan suaranya. Pemuda itu sedikitpun tidak menoleh. Ia malah mempercepat langkahnya.
“Hasan!” kini Shafira berteriak. Suaranya sedikit parau. Hasan tetap tak menoleh. Ia semakin mempercepat langkahnya dan menghilang di balik jalan menikung.
                Mata Shafira mulai berkaca. Ia mengangkat sedikit wajahnya, agar air mata itu enggan untuk tumpah. Hati Shafira merasa kecewa. Lelaki itu sama sekali tak menghiraukan panggilanya. Bahkan untuk sekedar menolehpun tidak!
                Namun Shafira sadar. Betapa cinta sejati membutuhkan pengorbanan dan perjuangan. Cinta sejati tidak akan roboh walau badai datang bertubi-tubi. Baginya ini adalah perjuangan bagi cinta yang tengah bersemayam dalam hatinya. Dan Shafira yakin, cinta dalam lubuk hatinya, adalah cinta sejati yang patut diperjuangkan.
                Ia memutuskan untuk menunggu Hasan kembali melewati jalan itu. Ia sudah hafal betul kegiatan yang di lakukan Hasan setiap hari. Bukan hanya dia saja. Seantero desa pun tahu aktifitas Hasan. Ia adalah pemuda soleh. Waktunya selalu ia habiskan untuk berdzikir dan I’tikaf di dalam masjid.
                Shafira terus berdiri menunggu kedatangan sepotong hatinya. Teriknya matahari tak menggoyahkan sejengkalpun tanah yang ia pijak saat ini. Matahari terus membakar tubuhnya. Tapi gadis itu semakin merasa bahwa cintanya kepada si pemuda semakin besar dan bergelora.
                Tepat ketika matahari mulai condong ke ufuk barat. Mata Shafira yang mulai berkunang kembali melihat Hasan di ujung jalan. Seketika dada Shafira kembali berdesir.
                Hasan menyadari kehadiran Shafira. sedikitpun ia tak berani mengangkat wajah. Ia semakin percepat langkahnya di saat semakinmendekati Shafira.
“Hasan. Wahai hasan!” Shafira setengah berteriak.
“Wahai pemuda. Berhentilah sejenak!” Shafira  memperkeras suaranya. Hasan mempercepat langkahnya menjauhi Shafira. Shafira mulai melangkahkan kakinya mencoba mengejar  pemuda itu.
“Wahai Hasan! Aku mohon berhentilah.” Suara Shafira mulai serak. “Ada sesuatu hal yang akan aku bicarakan.” Kata Shafira di tengah langkahnya mengejar Hasan.
                Hasan menghentikan langkahnya. Menoleh kearah Shafira dan mendekatinya.
“ Engkau Wahai perempuan,” Kata Hasan tertekan. “Apakah engkau tidak tahu dengan resiko yang anda perbuat?! Saya tidak ingin orang-orang sekitar mengira yang tidak-tidak kepada saya dan juga anda...” Sejenak Hasan menoleh ke arah samping.
“Maafkanlah saya wahai pemuda.” Jawab Shafira dengan suara  bergetar. Matanya mulai berkaca.” Bukanya saya tidak tahu akan resiko yang bakal terjadi jika seseorang melihat kita. Kalian para ahli ibadah laksana botol kaca yang bening. Sedikit saja keretakan dalam botol itu, maka  akan sangat tampak kecaacatanya. Hal yang mendorong saya melakukan ini adalah ketertarikanku atas dirimu. Setiap saat tubuh dan fikiranku selalu tersibukkan memikirkanmu. Aku selalu merindukanmu dan membayangkan bisa bersama denganmu. Aku mohon dengan sangat. Sudilah tanggapan dengan apa yang terjadi diantara kita saaat ini.” Shafira mulai terisak. Sejenak hasan memandang wajah Shafira. Namun ia segela memalingkan wajahnya dan berlalu dari hadapan Shafira.
                Shafira tetap terisak. Pasir-pasir lembut seolah iba melihat gadis itu. Mereka rela tubuh mereka tertimpa linangan air mata seorang gadis yang memperjuangkan cinta sejatinya.
***
                Hasan segera membasuh mukanya dengan Wudhu. Tatapanya pada seorang perempuan yang belum halal untuk dirinya merupakan dosa besar bagi ahli ibadah seperti dirinya. Berulang kali ia melakukan Sholat untuk menghapus bayangan perempuan itu, namun semakin ia berusaha, semakin bayangan itu seolah nyata di depan mata.  Akhirnya ia memutuskan untuk memberi jawaban pada gadis itu. Hasan mengambil selembar kertas dan sebuah pena. Ia mulai menulis apa yang ada dalam fikiranya.
                Surat itu telah selesai ia tulis. Segera Hasan keluar rumah dan kembali menuju jalan di mana ia bertemu si gadis.
                Shafira tetap berdiri tak beranjak dari tempatnya di mana Hasan meninggalkanya tadi. Dalam hati kecilnya hasan merasa begitu iba melihat Shafira. ia segera menghampirii Shafira, menyodorkan surat itu dan cepat-cepat kembali ke rumah.
                Tangan Shafira bergetar mengenggam surat dari hasan. Jantungnya bergemuruh penuh tanda tanya dan harapan. Semua akan terjawab dalam surat itu. Akankah jawaban itu dapat memberi cahaya dalam gelap hatinya saat ini karena termabukkan oleh api perasaan cinta? Ataukah surat itu justru semakin mempergelap hatinya yang telah gelap?  Segera ia berlari ke dalam rumah. Menuju kamarnya yang sunyi untuk membuka surat dari Hasan.
                Perlahan ia duduk di tepi ranjang. Ruangan itu begitu senyap dan hening. Bunga Waroudhy menatapnya penuh tanda tanya. Jemarinya membuka kertas berwarna coklat tua itu perlahan. Dan Mish’al membaca huruf demi huruf yang tergores dalam surat di tanganya.

“Assalamualaikum Warahmatullahi Ta’ala Wabarakatuh....
                Dengan menyebut nama Allah yang maha penyayang lagi maha pengasih.
Tidakkah engkau ingat wahai perempuan atas firmanya” Mereka tidak lain hanyalah mengikuti sangkaan-sangkaan dan apa yang diingini hawa nafsu mereka. Dan sesungguhnya telah datang petunjuk kepada mereka dari tuhan mereka”
Juga “Dan sesungguhnya kebanyakan dari manusia benar-benar hendak menyesatkan orang lain dengan hawa nafsu mereka tanpa pengetahuan. Sesungguhnya Tuhanmu, Dia-lah yang lebih mengetahui orang-orang yang melampaui batas.”
Ingatlah, bahwa apa yang engkau lakukan itu bersumber dari hatimu yang kurang berdzikir kepada Allah. Hingga hawa nafsumu menggiringmu melakukan hal yang baru saja kita alami.
                Untuk menanggapi kejadian tadi ingatlah firman-Nya ‘ Tidakkah kamu tahu, sesungguhnya Allah-lah yang mempunyai kerajaan langit dan bumi, disiksa-Nya siapa yang di kehendakin-Nya dan diampuni-Nya bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah maha kuasa atas segala sesuatu.’
Bagaiman aku bisa melakukan hal Maksiat kepada Allah? Sedang semua ini adalah milik Allah semata. Juga dengan firman-Nya “janganlah sekali-kali kamu menyangka, bahwa orang-orang yang gembira dengan apa yang telah mereka kerjakan, dan mereka suka supaya dipuji terhadap perbuatan yang belum mereka kerjakan, janganlah kamu menyangka bahwa mereka terlepas dari siksa! dan bagi mereka siksa yang pedih.” Bagaimana aku bisa menyibukkan diriku dengan hal-hal maksiat. Sedang siksaan begitu jelas di depan langkahku. Seperti bayangan yang selalu mengikuti kemanapun tubuh ini berjalan.
                Sekali lagi aku berwasiat kepadamu dengan firmanya, “ Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga. Dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu beruntung...”
                Shafira menutup surat yang telah ia baca. Kepalanya tertunduk. Di rengkuhnya surat itu dalam dada.  Pundaknya bergetar. Isak tangisnya mengiris kesunyian. Cahaya  mentari sore merembet masuk. Mengelus lembut kepala gadis itu bagai lentik jari seorang ibu.
***
                Keesokan pagi Shafira kembali berdiri di tepi jalan. Matanya terlihat sembab dan layu. Ia  Menanti  Hasan yang akan melalui jalan itu menuju masjid untuk melakukan Shalat Dhuha. Tak berselang lama sesosok Hasan terlihat berjalan pelan di ujung jalan. Hasan menyadari bahwa dirinya kembali di nanti oleh Shafira. cepat-cepat ia membalik tubuh dan hendak mengurungkan niatnya. Namun Shafira telah menyeru menyebut namanya.
“Wahai pemuda, berhentilah.” Hasan tak menghiraukan. Ia terus berjalan. “Aku mohon! Karena ini adalah pertemuan kita yang selanjutnya tidak akan ada pertemuan kembali.” Suara Shafira parau.
Mendengar itu Hasan menghentikan langkah. Shafira bergegas mendekati Hasan. Kaki-kaki kecilnya berlari mengepak jalan berdebu.
 “Berilah aku wasiat agar aku diberi ketenangan dalam hatiku, dan mampu mendekat kepada Tuhan....” Shafira sesenggukan.
                Hasan mengambil nafas pelan.  dalam Hati hasan menangis merasakan apa yang dirasakan  perempuan di depanya.
“Aku berwasiat kepadamu,” pelan Hasan berucap. “Takutlah engkau kepada Allah. Sibukkan dirimu dengan selalu mengingat-Nya. Karena Allah sajalah yang mengatur segala sesuatu di alam ini. Dia-lah pemilik matahari dan bulan, yang mengganti malam dan siang, yang menggerakkan setiap helai daun. Perbanyaklah bersujud kepada-Nya. Mintalah ketenangan hati dan dijauhkan dari hawa nafsu yang menyesatkan.  Dan ingatlah “ sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal Shaleh, bagi mereka adalah surga Firdaus mejadi tempat tinggal. Mereka kekal di dalamnya, mereka tidak ingin berpindah daripadanya...”
                Shafira tertunduk. Kedua telapaknya mencoba membendung air matanya. Cukup lama ia terus terisak. Sama sekali ia tak kuasa untuk sekedar menggerakkan mulutnya.
                Namun seketika Shafira tersentak. Ia seperti seorang yang baru saja tersadarkan.
“Demi Allah!  Engkau adalah seorang lelaki yang tak pernah aku temui sebelumnya. Sungguh mulia perempuan yang telah melahirkanmu...” Shafira tak dapat berkata lagi. Ia terus mencoba membendung air matanya. Ia mengucapkan beberapa bait syair dan segera berlari menuju kediamanya. Desau angin menggerakkan jubah Hasan. Matanya berkaca mengikuti langkah Shafira yang semakin menjauh darinya.
***
                Semenjak pertemuan terahir itu Shafira selalu tersibukkan dengan Berdzikir kepada Allah. Jika mentari mulai kembali ke peraduanya, ia akan segera menuju mihrab dan akan tetap di sana sampai mentari kembali menyambut bumi. Perempuan itu juga jarang mengisi perutnya dengan suapan makanan. Dan di saat ibadahnya mengendur, ia akan mengambil kembali surat itu dan meletakanya di dada sembari menangis.
“Apakah yang anda lakukan itu ada manfaatnya wahai tuanku? Kata pembantu perempuanya suatu hari.
“Demi Allah! Apakah ada obat lain selain surat ini untuk menghapus kerinduanku?!” jawab Shafira ditengah tangisnya.
***
                Pagi begitu tenang dan sunyi. Angin bersemilir dari balik bukit Khutatah. Menggerakkan pasir-pasir lembut meraba bumi. Tersiar kabar bahwa Shafira telah menghadap kepada sang Maha Hidup. Kabar itu segera tersiar di seantero desa. Bahkan sampai ke penjuru kota. Semua orang tahu kisah perjuangan cinta mereka. Seorang perempuan yang kembali kejalan Allah karena cinta sejati.  Antara seorang gadis cerdas nan elok dengan pemuda berwajah rembulan ahli ibadah.
                Kabar itu sampai di telinga Hasan. Berulangkali ia menangis dan menyebut-nyebut nama Shafira.
“Kenapa kau menangisinya?” kata seorang sahabatnya. “Bukankah engkau dulu yang selalu menyakiti hatinya dan  memutus hubungan denganya...”
“Aku memang selalu memutus hubungan denganya.” Katanya di tengah tangis.” Namun sesungguhnya hatiku sudah condong kepadanya sejak pertama kali aku melihatnya. Itu semua sengaja aku lakukan agar perempuan itu menjadi simpanan berharga kelak di kehidupanku selanjutnya...”  air matanya terus mengalir seolah tak akan pernah berhenti.  

Komentar

Postingan Populer