Di Atas Museum




Cerpen Asal: Mesir

Penulis: Muhammad Ibrahim

Diterjemah oleh: Muhammad Roghibi


   Cerita bermula saat orang-orang menyadari perempuan itu sudah di atas sana. Tidak ada yang tau bagaimana ia sampai di sana. Bahkan perempuan itu sendiri pun tak tahu bagaimana dirinya bisa sampai di sana dengan begitu mudahnya. 

Pandangan mata kini terpaku pada atap Museum Egypt. Di sebuah besi. Tepat di atas pintu masuk Museum. Tempat di mana perempuan paruh baya itu bersiap untuh meloncat. Bunuh diri.
Orang-orang yang di bawah hiruk-pikuk. Beberapa berteriak membujuk perempuan itu agar ia mengurungkan niatnya.
....
Negara mengalami Inflasi. Harga-harga melambung tinggi. Menambah penderitaannya. Dia musti memberi makan anak-anaknya. Ia seorang janda yang tak memiliki pekerjaan serta hidup yang penuh kekurangan. Janda itu sama sekali tidak mengerti apa yang tengah terjadi. Namun ia sering kali mendengar desas-desus mengenai Peminjaman Mesir kepada IMF(Bank Dunia) dan kebijakan Mesir mengenai Kurs Pound Egypt(Mata Uang Mesir) Mengenai hal itu, ia hanya punya satu pertanyaan,
"Hai, kalian! Kemari!  lihatlah rumah kami roboh?!"
Kini, kesengsaraanya telah mencapai batas maksimal. Dan hari ini, adalah saat semua kesengsaraanya akan sirna...
Tiba-tiba Direktur Musium keluar. Ia tercengang.  Direktur itu berharap agar para pengunjung museum tidak melihat perempuan itu,  tidak melihat ke atas.
Beberapa detik kemudian seorang wisatawan perempuan menjerit dengan bahasa inggris mencoba untuk menghentikan aksi bunuh diri janda tersebut. Hingga orang-orang yang di dalam gedung berduyun-duyun keluar demi melihat apa yang terjadi.
Sang Direktur lemas seketika.
Kerumunan semakin membludak. Sebuah mobil pemadam kebakaran merengsek memecah kerumunan.
Dari atas sana, perempuan itu dapat melihat beberepa orang berjas rapi mulai datang dengan wajah tegas. Sebagianya berkacamata hitam. Tampak elegan. Ia tidak tahu siapa mereka. Perempuan itu hanya tahu bahwa mereka adalah para penghisap darah.
Salah satu dari orang-orang berjas itupun mulai berbicara lewat pengeras suara merayu janda itu untuk turun dan kembali.  Dia, si janda, bagaimanapun tidak tahu, "Kembali ke mana?" Dan ia tetap tidak akan turun.
Beberapa menit kemudian, wartawan untuk kantor berita internasional mulai berduyun-duyun ke tempat kejadian. Orang-orang berjas itu segera memalingkan wajah dari si perempuan untuk menghadap kru kamera.  Mereka menerangkan--mencoba sebaik mungkin--mengenai betapa putus asa masyarakat karena lebih banyak kebijakan ekonomi Mesir telah memperburuk kondisi kehidupan penduduknya yang sudah mengerikan. Banyak orang berjas berdatangan. Wajah mereka yang sebelumnya tidak bisa di- pahami mulai memunculkan frustasi. Kemudian juru bicara mereka yang ditunjuk mulai meminta permpuan itu untuk turun. Memohon padanya untuk berubah pikiran tentang bunuh diri.
Tiba-tiba, perempuan itu ingat akan film Teroris Dan Kebab. Dalam film itu, karakter utama secara tidak sengaja menyandra seorang pekerja. Saar diminta oleh Menteri Dalam Negeri untuk mengajukan tuntutannya, pelaku itu tidak tahu apa yang ia inginkan, meskipun pada dasarnya ia tak memiliki apapun untuk kehidupanya sehari-hari. Kini perempuan itu merasa seperti dirinya sama dengan si aktor film.
Waktu terus berjalan. Kerumunan semakin membludak. Wartawan juga terus berdatangan. Tak henti-hentinya mereka mengambil foto dan video. Mereka tak mau melewatkan insiden yang akan membuat viral ini. Para polisi datang untuk mengamankan. Namun sia-sia. Para wartawan dan orang-orang tetap mencuri-curi melalui ponsel mereka. Rombongan reporter kembali datang, perempuan paruh baya itu tetap diam dia atas sana. Ia menikmati dengan apa yang tengah terjadi. Ia tersenyum melihat lemasnya muka para orang-orang berdasi itu. Dan ia tak berkeinginan mengahiri penampilan dramatisnya.
Kerumunan penonton yang meningkat menutup lalu lintas pejalan kaki di Tahrir Square dan jalan-jalan yang terhubung ke sana. Setengah dari orang-orang di sana tidak bisa melihat. Dan dibiarkan bertanya-tanya apa yang sedang terjadi. Desas-desus bahwa Kairo Barat telah bergejolak pun mulai merajalela melalui panggilan-panggilan telefon. Dan dengan segera menyebar ke setiap penjuru negri.
Suara pada pengeras suara memintanya lagi dengan sopan untuk mengakhiri situasi. Perempuan janda itu melihat ke bawah pada orang-orang berjas dan berkacamata hitam. Ia menikmati melihat orang-orang elit itu tak berdaya. Tiba-tiba, dia menyadari bahwa dia lupa alasannya untuk berdiri di sana.. [][]



Muhammad Ibrahim

Judul Asli cerpen: Fauqol Muttahif

Komentar

Postingan Populer