Pendakian Gunung Sumbing 3371 Mdpl 2019

Dari kiri: Mas Puring(Ceo. Base Camp), Mas Salim(Pemilik Base Camp), Saya(Orang keren), Wiz Hanifa, Fajar Estianti, Alfa Thomas Bison.

    "Sekarang kamu Packing, besok kamu berangkat ke Solo. Aku di Terminal Tirtonadi." Begitulah bunyi pesan dia. Dan saat itu pukul 11 malam. 14 September 2019. Pesan itu seperti kentut. Cepat namun melekat. 
Setelah melakukan perdebatan yang sangat-sangat singkat, padat, dan jelas, dengan sahabatku asal Banten tersebut, akupun kembali membuka kotak perlatan. Rasanya seperti membuka brankas peninggalan purbakala. Dan selanjutnya, Packing. 

    Siang 15 September, aku berangkat dari Banyuwangi menuju Solo. Bersama seekor bis. Dan tentu sopirnya juga. 
Terminal Tirtonadi Solo

    Dan dini hari 16 September, aku sudah berada di terminal Tirtonadi, Solo. Segera aku dan sahabatku, Fajar, melakukan ritual pertemuan ala Bolliwood. Pertemuanku dan sahabatku itu disambut banyak sekali orang. Bahkan ada puluhan bis yang menyambut kami di terminal tersebut. Waw. Spektakuler sekali. Kami menikmati waktu menjelang subuh di terminal tersebut ditemani kopi panas dan rokok. Kemudian datanglah seorang ibu-ibu dengan pakaian yang cukup semolek. Mengenai wajah, tentu ala kadarnya. 
"Mbak. Susu Anget." Kata ibu-ibu itu kepada si penjual. "Wes due Susu kok jek tuku." Tambah ibu-ibu tadi seraya tertawa dan menghadap aku. Aku tertawa keras. 
"Sorry mas. Sorry.." Kata ibu-ibu itu. 
"Iya buk, gak apa-apa." Aku hanya bisa menjawab itu sambil tertawa. Sebenarnya aku bisa melanjutkan obrolan tadi. Namun sepertinya, Dini hari itu aku lebih tertarik dengan Kopi. Bukan dengan "Susu". Dan, tidak lama setelah itu, datang lagi seorang ibu-ibu yang pakainya sama seperti yang awal tadi. Kali ini lebih Waw. Ibu-ibu yang kedua ini duduk di depanku sambil menyesap rokok. "Jahe anget, Mbak. Sak gelas." Kata ibu itu kepada penjual. Kemudian ia kembali menyesap rokoknya dan bumbung-bumbung asap putih keluar dari mulutnya yang merah merona. Aku sempat menerka, Kira-kira harga lipstiknya 12 ribuan. 
Melihat dua perempuan paruh baya tersebut, dengan tingkah unik mereka, aku tidak dapat berkomentar apa-apa. Aku hanya bisa tertawa. 
    Dari Terminal Tirtonadi Solo kami menuju Magelang. Dengan bis rute Jogja-Magelang. Walhasil, kami harus menuju Jogja dahulu. Sampai di terminal Giwangan Jogja, barulah kami menuju Terminal Tedor, Magelang.

    Dari terminal Magelang tersebut, kami menuju ke utara. Ke Kaliangkrik. Sebenarnya bisa ditempuh menggunakan mini bus. Namun saat itu bis yang menuju Kaliangkrik sedang tidak mood untuk bekerja. Ahirnya kami memilih alternatif kedua. Yaitu naik angkot.  
Angkot dengan kode 8 adalah rute yang menuju Pertigaan Perdana. Tidak ada angkot yang langsung ke Kaliangkrik. Sehingga kami naik angkot dari Terminal Tedor Magelang menuju Pertigaan Perdana, dari Pertigaan Perdana, kami naik angkot lagi menuju Pasar Kaliangkrik. Ada yang menarik di sini. Anak-anak SD yang pulang sekolah naik angkot, dan tidak ada lagi kursi yang tersisa, mereka bergelantungan di pintu. 
Aku sebenarnya merinding melihat itu. Jalan kota cukup sempit, naik-turun dan berkelok-kelok. Angkot itu berjalan dengan kecepat 40 Kilo Meter per Jam. Sehingga keselamatan bocah-bocah SD itu hanya tergantung pada jari-jari kecil mereka yang menggenggam sebatang besi tepat di atas pintu angkot. 
    Setelah 15 menit-an barulah kita sampai di Pasar Kaliangkrik. Si Sopir angkot kami tadi langsung mempertemukan kami dengan ojek yang langsung mengantar ke Base Camp Butuh. Dari pasar Kaliangkrik menuju Base Camp Butuh, Ojeknya hanya bertarif 30 ribu. Sedangkan jarak dari pasar ke Base Camp sekitar 12 Km. Dengan jalur yang mayoritas tanjakan dengan sudut kemiringan 60-an drajat. Sehingga tarif 30 ribu, merupakan tarif yang cukup murah-meriah. 
 
Icon Desa Butuh
    

Sekitar 20 menit, melewati jalan kampung yang asri, dan pemandangan desa yang mirip Tibet, kami pun sampai di Base Camp Butuh.

Tempat Ngopi tepat di depan Base Camp. Rasanya persis seperti di Tibet

    Kami segera membersihkan diri di kamar mandi Base Camp.  Hawa dingin merayap ke pori-pori. Pemandangan dari Base Camp begitu mempesona. Beberapa saat aku merasa di sebuah tempat di luar Indonesia. Sebab model bangunan dan tatanan desa yang eksotik. Kearifan lokal cukup terjaga. Penduduk desa Butuh cukup permisif dengan orang asing.  Hampir setiap orang warga Butuh menyapa saya dahulu. Saya salut dengan kearifan lokal desa Butuh ini. 
    Setelah melakukan registrasi, sore itu kami berdua segera memulai pendakian. Menuju Pos 1, Kami menaiki ojek.

    Ada yang tidak beres saat saya melihat motor yang digunakan untuk mengangkut kami. Motor Cross. Yup. Aku langsung membayangkan Trek yang bakal kami lalui.

    Aku memilih ojek yang Motor Crossnya Modifikasian. Artinya, pada dasarnya itu motor bebek biasa. Namun disulap menjadi Motor Cross. Aku pun duduk di boncengan belakang. Saat demikian, orang-orang yang melihat aku tertawa. Ada apa? Apa ada yang salah dengan diriku? Apa ada sisa cabai di gigiku? Batinku kepada orang-orang itu. 
"Mas ngapain duduk di belakang situ? Situ lo, Mas. Depan." Kata seorang sambil tertawa. 
Saya terbelalak. Ternyata tepat di depan si sopir ojek ada sebuah tempat duduk kecil. Oh Tuhan... Trek seperti apa ini yang bakalan menyambutku. 
Kami pun berangkat. Saat kami berangkat, ada puluhan pendaki lain yang turun. Dan mereka seperti memberi sambutan kepada kami yang tengah duduk meringkuk di depan sopir ojek. Kami seperti anak kecil yang tengah di ajak jalan-jalan paman kami. 
Tanjakan pertama biasa saja, namun setelah berkelok, motor yang aku tumpangi, tidak kuat menanjak. Bagian depan motor pun terangkat bersama tubuhku. What The Fuck! Jantungku berdesir. Namun sepertinya tukang ojek itu bisa merasakan desiran jantung saya. Ia segera mengimbangi motor cross abal-abal yang ngangkat itu. Dan ia langsung tertawa. Mencoba menghiburku. Otomatis aku pun juga tertawa. Masih dengan desiran-desiran jantung yang ketakutan. Tanjakan-tanjakan dengan jalur batu makadam kami lewati. Adrenalinku terpacu setiap detik. Hingga kami pun sampai di tempat terahir motor bisa menempuh. 

    Setelah ban motor yang bekerja, kini giliran kaki kami yang bekerja mengangkut tubuh kami. 
Kami mulai merengsek ke atas. Di belakang kami ada sepasang kekasih yang tengah ngos-ngosan mendaki jalur yang tadi kami lewati dengan sepeda motor. 
"Gimana kalau kita bareng aja sama mereka?" Kata Fajar  waktu kami istirahat. 
"Apa enggak ngeganggu?" Jawabku. 
"Iya juga sih. Tadi aku sempat liat si cowoknya itu Kopasus." Kata Fajar. 
Aku lirik sebentar ke arah lelaki yang oleh Fajar disebut Kopasus. Aku sedikit tertawa. Masa iya itu Kopasus? Kok Body-nya semacam Triplek gitu? Batinku. 
Sepasang lelaki dan perempuan itu ahirnya sampai di dekat kami. Kami tawarkan mereka untuk istirahat sebentar. Dan mereka menerima tawaran kami dengan baik. 
"Masnya Kopasus, ya?" Tanyaku kemudian. 
"Ha? Bukan." Jawabnya setengah tertawa. 
"Lha itu kostumnya?" Aku menunjuk kaos lengan panjang merah yang ia kenakan. 
"Oh, ini. Ah, ini SMK Pelayaran." Kata dia. 
Tak berselang lama datang lagi dua orang dengan nafas yang terengah plus wajah yang kusam. Dua orang lelaki itu juga istirahat di tempat kami. 
"Masnya mau turun?" Tanya teman saya. 
"Iya mas." 
Kami pun mengobrol soal banyak hal. Lelaki yang bersama kekasihnya tadi, berasal dari Magelang. Sedangkan dua orang lelaki yang baru datang tadi berasal dari Surabaya. 
Molekul-molekul keakraban cepat tercipta. Pendakian yang penuh kesulitan, membuat kami merasa kami seperjuangan. Hal demikian yang membuat setiap pendaki merasa akrab dengan pendaki lain. Bahkan merasa seperti saudara sendiri. (Ah, lebbay..) 

    Setelah beberapa saat bercengkrama, dua lelaki yang hendak turun tadi pamit untuk melanjutkan perjalanan. 

"Gimana kalau kita bareng aja." Tawarku kepada dua pasang kekasih tersebut. Dan mereka menerima dengan riang sentaosa. 
"Baik juga. Soalnya saya ngajak perempuan, Mas. Jadi kalau rame kan lebih enak." Kata si lelaki. 
Aku tidak tahu apa yang ia maksud dengan "enak". Namun aku juga tidak mencoba mencari tahu lebih banyak. Lelaki itu Bernama Alfa. Sedang kekasihnya bernama Hanifa. Tadi, saat di Base Camp, saat aku menulis namaku dalam daftar buku pendaki, aku sempat melihat nama Hanifa tercantum di sana. Hmm.. ternyata ini sosoknya... Batinku.
"Itu sebentar lagi Pos satu. Mari kita lanjut aja." Kata si Hanifa. Perempuan ini memiliki tubuh bulat. Kakinya bulat. Kepalanya bulat. Bahkan giginya juga bulat. Sedangkan si cowok, perawakanya tinggi. Rambutnya lurus. Tubuh yang cukup proporsional. 

    Kami segera merengsek menuju pos 1. Di sana, kami melaksanakan Shalat Maghrib. 
"Gimana, Jamaah apa enggak ini?" Tanya Fajar. 
"Ya pengenya gitu sih. Tapi gimana? Mana cukup tempatnya?" Jawab Alfa. 
"Ya udah. Kita Jamaah. Hanifa, kamu jadi imam." Ungkap saya. Dan kami tertawa. 
"Alah. Sok-sok-an Tayamum.." Kata Hanifa kepada Pacarnya, Alfa, saat Alfa menempel-nempelkan telapak tanganya di dinding kayu pos 1. Berharap ada debu yang menempel di tanganya yang dapat ia gunakan Tayamum.
"Lha iya. Tayamum ternyata yang di pegang tai. "Tambah saya. Dan kami tertawa kembali.

    Segera setelah itu, kami melaksanakan Sholat sendiri-sendiri. Tak lama setelah itu datang banyak sekali rombongan pendaki dari Pekalongan. Kami semua sepakat untuk mendaki bersama.

   Namun, di saat yang bersamaan, Fajar mengajak saya untuk menepi sejenak menjauh dari rombongan. Fajar bimbang hendak melanjutkan pendakian. Ahirnya kami pun bermusyawarah dengan berbisik-bisik. Aku dan Fajar semacam sepasang pengantin yang kehilangan buku nikah. Dan sepertinya itu juga dirasakan Hanifa. Ia berkomentar, "Itu kenapa sih, Mas-mas itu bisik-bisik sendiri." 
"Biarin, Fa. Mereka sedang membahas perkara besar.." Canda Alfa. 
Setelah itu, aku dan Fajar sepakat untuk lanjut mendaki.

    Pemandangannya cukup indah malam itu. Di sisi kiri, ada kegelapan hutan. Di sisi kanan, juga kegelapan Hutan, di segala sisi gelap semua. Indah sekali.

    Di sepanjang perjalanan kami banyak bertukar pengetahuan tentang profil diri masing-masing. Juga mengenai perbedaan bahasa dan kultur daerah masing-masing. Disertai guyonan-guyonan ringan. Hanya saja, Sahabat kita yang bundar ini, Si Hanifa, ia selalu telat menangkap makna setiap guyonan yang kami kemukakan. Sehingga, jika salah satu dari kami mengeluarkan leluconya, kami semua akan tertawa. Setelah beberapa saat, saat tawa kami reda, barulah Hanifa tertawa. Tentu itu menjadi lelucon tersendiri yang cukup membuat perut kami kembung karena harus kembali tertawa.

     Malam itu kami terus bergerak ke atas. Dari pos satu ke pos dua, tracknya cukup menanjak. Membutuhkan daya yang lebih banyak. Membutuhkan pembakaran lemak yang lebih. Buat yang berlemak, seperti Hanifa, ini cukup menguntungkan. Karena ia punya bahan bakar. Namun untuk para cowok yang sekurus kertas ini, apa yang mau dibakar?

    Setelah sekitar dua jam perjalanan, kami sampai di pos 2. Dan perjalanan itu terasa ringan. Sebab hati kita ringan selalu. 

    Pos 2 suasananya cukup horor. Karena terletak di tengah rindangnya Hutan. Berbeda dengan pos satu yang masih berada di area perkebunan penduduk. Kami tak berlama-lama di sana. Bukan karena takut. Namun memang sudah cukup beristirahat. Selanjutnya, dari Pos 2 menuju Pos 3 jalurnya bonus. Yup, cukup banyak track yang datar. Di jalur ini kami kembali bertemu dengan rombongan dari pekalongan tadi. Mereka tengah beristirahat.
 Jalur ini semacam jalan tol. Kami tidak butuh waktu lama untuk mencapai pos 3. Cukup sekitar satu jam setengah dengan langkah santai kami sudah mencapai pos 3.
 Pemandangan Sunrice(Beras Matahari) dari Pos 3. 

    Ternyata, banyak sekali pendaki yang nge-Camp di pos 3 ini. Kami mencari-cari lokasi yang sekiranya bisa untuk mendirikan tenda. Dan beruntung sekali, masih ada sebuah lokasi yang cukup untuk mendirikan 3 tenda. Saat di pos 3 ini, rombongan dari pekalongan tadi juga baru datang. Maka, aku dan Fajar segera mendirikan tenda, berhadapan dengan tenda si Alfa dan kekasihnya, si Bulat.

    Saat tenda sudah terpasang sempurna, saat kami sudah berada di dalamnya, saat gerak tubuh mulai mereda, di situlah kami mulai merasa hawa dingin mengelus tubuh kami. Pelan. Dari kulit ke pori-pori. Dari pori-pori ke tulang, terus hingga merata ke setiap sendi. Aku sudah merasakan telapak tanganku membeku.

    Kami segera memasak makanan. Cacing-cacing dalam perutku berdemo karena suplay makanan telat beberapa jam. Aku dan Fajar memasak Mie instan dan sosis. Hasilnya, bubur. Setelah perut terasa kenyang, sejenak kami menikmati kopi sembari membicarakan hal-hal ringan. Sebelum ahirnya kami terlelap dalam buaian hembus angin lembah yang beradu dengan malam. Tubuh kami menggigil. Bahkan aku sempat mendengar rintihan tenda yang juga menggigil sebab tubuhnya berembun. Dan, malam itu, Alfa meminjam Sleeping Bag milikku. Sleeping Bag miliknya basah sebab ketumpahan air saat di dalam tas. Aku tertawa. Sial sekali nasibnya.
Dan Sungguh kebetulan sekali, aku membawa dua Sleeping Bag. Jadi segera saja kuserahkan pada dua manusia yang kedinginan tersebut. Dan malam itu, kadang kala aku terbangun saat mendengar pendaki lain melintas di sekitar kami. Suasana begitu hening. Aku seperti berada di sebuah tempat yang belum terinjak oleh manusia manapun di muka bumi. Lantas kemudian, aku terlelap kembali. 


    Alarm pukul 3 berbunyi. Aku terbangun. Kakiku kaku. Tanganku kaku. Perutku juga kaku sebab membeku. Segera aku mencari kompor untuk menghangatkan tubuh. 
"Assalamualaikum…" Tiba-tiba kudengar suara Alfa dari dalam tendanya. Di susul suara gesekan resleting tenda yang terbuka. Ingin sekali tertawa mendengar salam di tempat seperti ini, dan dalam kondisi yang sedemikian. 
"Wah. Gak bisa tidur aku, Mas." Kata Alfa. 
"Jadi kamu tidak tidur semalaman?" Tanyaku agak terkejut. 
"Iya. Dingin banget."
Kami pun menghangatkan tubuh sambil meminum kopi. Dan bercerita Horror. Untung saja di sana cukup banyak pendaki. Meski belum ada yang terbangun. Hingga cerita horror itu menjadi cerita yang menarik dan hangat. Segera setelah itu Alfa pamit untuk tidur. Kali ini ia sudah bisa merasakan kantuk. Yap, setelah ia mendapatkan teman dan kondisi tubuh sudah agak normal, maka kantuk pun datang. Alfa terlelap. Menyisakan diriku sendiri. Kupandang horizon langit timur yang mulai memerah. Tanda akan datangnya sang penghangat sejati. Mentari. 


    Tadi malam, aku sempat bertanya mengenai arah barat kepada Hanifa. 
"Kayaknya di sana deh, Mas." Kata Hanifa sambil menunjuk arah Horizon yang kini kupandang. Aku ingin tertawa kali ini. Ternyata arah barat yang ditunjuk gadis manis ini adalah tempat Matahari bakal muncul. 

     Sembari menghisap rokok dan menyesap kopi, kunikmati dini hari itu. Kuputar musik dalam Handphone. Mengalun pelan begitu tentram. Saat ritme musik terserap oleh otakku, saat aku mulai terbuai oleh alunannya, tiba-tiba, "Tlut! Tlut!" Batre Lemah.
Siaalan! Sungguh Sialan! Sekali lagi, Sungguh Sialan! Dan dua menit setelahnya, Handphoneku gelap. Mati. 

    Pagi hari setelah sarapan, kami bergegas segera untuk Summit. Sebisa mungkin kami menjaga stamina. Hanifa memutar musik agar psikis kami tetap fresh. Yang pengaruhnya cukup besar dalam menjaga stamina. Kali ini, kulihat gadis ini lebih ceria. Bahkan model bicaranya mirip seorang Rapper. Yup, hampir setiap perempuan memang seorang Rapper. Itu bakat alamiah yang diberikan Tuhan kepada kaum Hawa. Yup, setiap perempuan memiliki bakat cerewet. 

Persiapan Summit ke Puncak.

    Kami sepakat menaiki puncak dengan santai. Sembari menikmati Morbery. Sebuah tumbuhan dalam keluarga Bery. Yang pohonya berduri dan buahnya berwarna hitam jika sudah masak. Jika mentah warnanya merah. Buahnya berbentuk seperti otak ayam. Rasanya asam manis. Cukup segar dan menyenangkan. Si penemu buah ini adalah Hanifa, yang mana, kini ia kami juluki Wiz Hanifa. Seperti yang kukatakan tadi, sebab ia pintar nge-Rap. Ya, meskipun aku berulang kali menaiki gunung, dan berulang kali melihat buah ini, namun aku baru tahu bahwa buah ini bisa dimakan. Setidaknya bisa dimakan saat kepepet air. 
Si Fajar

     Dan tak terasa kami sudah sampai di pos 4. Dari sanalah tampak di mata kami puncak gunung Sumbing. Menjulang tinggi, terlihat besar dan gagah. Berpadu dengan langit yang tak terbatas. Dan terlihat melelahkan untuk dinaiki. Dan membuat kami malas. Namun kami bukan kaleng-kaleng yang menyerah begitu saja. 
Itu tenda-tenda di belakang adalah Pos 4

    Kami terus merengsek ke atas dan ke atas. Dari pos 4 ke puncak, kami memakan waktu 4 Jam. Aku dan Fajar sampai duluan di puncak. Betapa bahagianya aku dan dia. Dan setelah beberapa kali kami selfi, Alfa dan Wiz Hanifa yang tadi kami tinggal, kini sudah sampai puncak. Mereka tertawa melihat kami. 
"Hoe. Puncaknya yang itu."Alfa menjunjuk sebuah bebatuan sekitar 30 meteran dari tempat kami. " Itu bukan puncak aslinya.." Teriak Alfa. Sambil menunjuk tempat aku dan Fajar bersuka-ria.

Aku dan Fajar setengah terperanjat mendengar itu. Jadi kami salah puncak? Tidak mungkin. Tidak mungkin. Jangan ngawur kamu kalau ngomong. 

Setelah tertawa beberapa saat karena salah puncak, kami pun terpaksa kelelahan kembali menuju puncak Sejati Sumbing. Dan, kami berdiri di sana tanpa ada satu pun rombongan lain. Karena kami rombongan terahir yang di sana.

    Siang, 17 September 2019, kami dengan bangga mencatat diri kami bahwa, kami bukanlah satu-satunya orang yang berhasil mencapai puncak sejati gunung Sumbing. 3371 Di atas permukaan laut. Hanya selisih 5000 mdpl dengan Puncak Everest.





Komentar

Postingan Populer