Denganya Aku Dekat Denganmu
Sejujurnya, pernikahanku dengan lelaki ini merupakan wujud pelampiasanku sebab sakit hati.
Fahruddin. Lelaki yang telah 3 tahun akrab dengan diriku. Lelaki yang telah membuat hatiku merasa nyaman, membuatku tertawa, membuatku hawatir, membuatku cemburu. Lelaki yang berjanji akan meminangku, bulan lalu ia memutuskan hubungan denganku.
"Kuharap kamu mengerti, Mi." Katanya di depanku.
Aku menangis. Fahruddin menunduk. Sejenak ia seperti mau berkata namun tidak jadi. Tangisku tak reda.
"Rahmi. Sudah. Aku tambah sedih kalau kau menangis terus seperti ini."
"A, Apa kamu tak sayang aku mas...?"
"Rahmi, sudah kukatakan berulang kali. Kalau masalah perasaan, kamu perempuan yang paling membuatku nyaman. Aku sayang Rahmi. Sayang. Tapi masalah ini terlalu rumit... bukan masalah--"
"Iya! Berarti kamu gak sayang!" Bentakku. Dan tangisku kembali pecah. "Jika kamu benar-benar ingin menikahiku. Jika kamu serius. Pasti kamu bisa cari jalan keluar. Kamu, kamu kan bisa bilang ke ayah- ibu kalau kamu sudah punya pandangan. Sudah punya aku..." Aku sesenggukan.
"Sudah. Sudah kukatakan itu Rahmi... Dan sudah berulang kali kukatakan padamu bahwa bapak dan ibu terlanjur meminta perempuan itu. Mereka gak enak tiba-tiba membatalkan..."
Kulihat suara Fahruddin sudah mulai serak. Fahruddin lelaki yang kuat. Ia tak pernah menangis. Selama kami kenal, aku tak pernah melihatnya sesedih ini. Aku tahu, sebab ia juga mencintaiku. Aku bisa merasakan hatinya. Kami memang saling mencintai. Dan kini posisi Fahruddin memang sulit. Namun aku juga begitu mencintai lelaki ini. Aku tak mau melepaskan ia begitu saja. Aku tak siap jika hidupku tanpa Fahruddin.
"Memang. Ini salahku Rahmi." Kata dia kemudian. "Salahku karena aku tidak mengenalkanmu pada ayah-ibu sejak dari dulu. Sejak kita bertemu. Kalau aku lakukan itu, tentu mereka tidak akan menjodohkanku dengan seorang perempuan lain. Ia pasti menerimamu. Kamu wanita baik. Bahkan lebih baik dari calonku ini..." Fahruddin semakin serak suaranya. Namun ia tidak mengeluarkan air mata.
"Iya. Aku juga salah." Kataku. Kucoba untuk menghentikan tangisku. Rasanya cukup sakit menahan tangis. Mencoba untuk tegar. "Aku yang salah, Mas. Aku salah sebab aku terlalu menyayangimu. Sedang ahirnya aku kau tinggalkan..." Aku berlalu dari meja.
Fahruddin terhentak. "Mimi!" Katanya tertahan. Mendengar itu, aku tak dapat lagi menahan tangisku. Tangisku pecah. Mimi merupakan panggilan dirinya kepada diriku. Panggilan yang begitu aku sukai. Panggilan yang membuat pipiku bersemu tatkala Fahruddin memanggilku dengan panggilan itu.
Aku tak peduli dengan beberapa pasang mata yang menatapku heran. Aku terus melangkah ke luar. Tangisku masih belum reda. Kuharap Fahruddin mengejarku. Kemudian menenangkan diriku, kemudian ia berkata ia akan menyuruh orang tuanya menggagalkan perjodohanya, dan kemudian ia akan berkata aku akan tetap ia nikahi... Namun tidak. Ia tak mengejarku. Dan sejak saat itu, kami telah usai.
Dua minggu setelahnya, seorang lelaki meminta diriku lewat orang tuaku. Lantas ayah dan ibu menyampaikan hal itu kepadaku. Segera aku terima. Dan aku ingin secepat mungkin diadakan pernikahan. Secepat mungkin. Sebelum pernikahan Fahruddin..
Dan kini, Lelaki bernama Faisal baru saja melafadzkan penerimaan pernikahan. Aku telah sah menjadi istrinya. Fahruddin hadir di pernikahanku ini. Ia tertunduk. Aku pun menangis. Hatiku masih milik Fahruddin. Usaha pelampiasan ini sungguh malah membuat hatiku sakit. Kini aku milik seorang lelaki yang hatiku tak bersemayam di dirinya. Dan Fahruddin semakin mustahil untuk kumiliki.
Faisal lelaki yang baik. Ia murah senyum. Bicaranya kalem. Mengenai wajah, ia lebih tampan dari Fahruddin. Juga mengenai harta, ia lebih mampu dari Fahruddin. Tapi entah, Fahruddin. Dan tetap Fahruddin yang ada di hatiku.
Malam pertama, aku meminta kepada Mas Faisal untuk tidur terpisah. Dan ia tersenyum. Ia menggelar kasur di lantai kamar. Dan malam-malam selanjutnya, aku terus mencari alasan agar Mas Faisal tak menyentuhku. Walau kami satu ranjang.
"Apa kamu belum bisa melupakan Fahruddin, dik?" Katanya setelah 3 bulan pernikahan kami. Saat aku tetap menolak untuk ia sentuh.
Aku menangis. Pertanyaanya membuat diriku semakin terhimpit. Membuat aku semakin menyalahkan diriku sendiri.
"Maaf, mas. Aku memang belum bisa melupakan dirinya.. Maaf, mas..." Aku menangis. Mas Faisal mendesah. Kemudian mengecup keningku. Dan ia lekas untuk tidur.
Aku selalu menolak untuk dibonceng Mas Faisal. Kadang kala, terpaksa aku menuruti ajakanya berjalan-jalan ke kota. Namun tetap. Saat aku berjalan-jalan dengan Mas Faisal, yang kubayangkan saat itu aku tengah berjalan-jalan dengan Fahruddin.
Mas Faisal sering membuat guyonan kepadaku. Mencoba menghiburku. Namun entah, hatiku tak bisa sepenuhnya lapang menerima semua itu. Selalu saja tawa hambar yang keluar dari diriku. Dan aku melihat betapa kecewa mas Faisal dengan apa yang aku lakukan. Namun Ia mencoba menutupi kekecewaannya dengan tersenyum padaku.
Di bulan ke lima pernikahaanku dengan Mas Faisal, Fahruddin melaksanakan akad nikah. Di bulan itu pula aku masih perawan. Masih belum tersentuh Mas Faisal. Masih selalu membuat alasan jika Mas Faisal hendak menyentuh diriku.
Aku Hadir bersama Mas Faisal di pernikahan Fahruddin. Kugandeng tangan Mas Faisal. Gandengan pertamaku untuk dirinya. Aku tahu Mas Faisal menyadari bahwa apa yang aku lakukan hanya sebatas "memanas-manasi" Fahruddin. Namun kulihat raut muka Mas Faisal begitu bahagia. Seolah betapa lama ia menunggu gandengan tanganku. Ia teramat bahagia, walau ia tahu perempuan yang menggandengnya tidak dengan tulus hati.
Hatiku benar-benar sakit saat Fahruddin tersenyum lebar di kursi pelaminan bersama seorang wanita yang telah sah disampingnya.
Sepulang dari acara itu aku menangis. Menangis lama sekali. Melihat diriku, Mas Faisal keluar kamar. Membiarkanku sendirian. Dan malam itu Mas Faisal tidak tidur denganku. Entah kemana dia. Aku tak tahu.
Paginya, Mas Faisal pulang. Wajahnya lemas. Dan agak pucat. Aku tidak bertanya ia dari mana. Entah, tak ada niatan untuk menanyainya. Meski selanjutnya, aku tahu dari orang-orang, bahwa malam itu Mas Faisal tidur di Masjid.
Bulan berganti Tahun. Dua tahun sudah aku bersama Mas Faisal. Kini aku telah Hamil. Aku membayangkan, bahwa anak ini seharusnya adalah anak Fahruddin. Aku sering menangis. Entah, aku ingin bayangan Fahruddin hilang di benakku. Di hidupku. Namun kenapa selalu tak bisa. Aku terlalu lelah dan kasihan melihat Mas Faisal yang terus menerus baik kepadaku. Walau ia tahu, bahwa aku tidak mencintainya. Sampai saat ini pun, Fahruddin selalu membuat hatiku bergetar. Bayanganya selalu ada dalam hidupku. Dan di masa itu pula, Mas Faisal selalu merawatku dengan tulus. Aku ingin mencintai Mas Faisal. Aku ingin membalas setiap kebaikanya dengan tersenyum, atau pun dengan ketulusan hati. Namun tak bisa. Betapa ngotot aku berusaha untuk mencintai Mas Faisal, dan tidak bersikap dingin kepadanya, tetap tak bisa. Tetap Fahruddin yang berada di hatiku.
"Dik. Kamu butuh apa. Aku belikan." Kata mas Faisal saat aku hendak melahirkan.
"Tolong, Mas. Belikan minuman dingin." Kataku. Mas Faisal memandangku cukup lama. Tanganya menggenggam tanganku cukup erat. Ada yang aneh. Aku merasa dadaku bergetar. Sebuah getaran perasaan yang lama sekali telah hilang di diriku. Getaran kenyamanan.
"Mas.." Aku memberi isyarat Mas Faisal untuk mendekat. Dan lekas ku kecup pipi Mas Faisal. Aku tersenyum kepada dirinya. Mas Faisal Mengerjap-ngerjap. Ia tak mampu berkata apa-apa. Aku sendiri juga bingung dengan diriku sendiri. Selama dua tahun bersama Mas Faisal, baru kali ini aku tersenyum tulus kepada dirinya.
"Ya sudah, Dik. Aku berangkat dulu." Kata Mas Faisal. Wajahnya berseri-seri. Aku tersenyum. Bangga sekali. Juga bahagia sekali...
Anakku telah lahir. Hal pertama yang kufikirkan adalah ingin segera melihat betapa bahagiannya suamiku. Mas Faisal. Aku tak sabar menunggunya. Namun lama Mas Faisal tak kunjung datang. Hingga ahirnya, seseorang mengabarkan Mas Faisal kecelakaan. Meninggal di tempat.
***
Aku sering menangis di malam hari saat kutatap bocah mungil di depanku yang tengah tertidur pulas. Bocah lelaki itu begitu tampan dan menggemaskan. Membuat aku selalu membayangkan ayahnya. Di saat itulah air mataku tak terbendung. Di saat aku ingat kesabaran Mas Faisal menanti terbukanya hatiku, di saat aku mengingat betapa dinginya diriku kepadanya, air mataku akan semakin deras mengalir.
Dan Fahruddin, telah bercerai dengan istrinya. Ekonominya tak karuan. Istrinya menjadi TKW dan memiliki pasangan gelap. Fahruddin sempat mendatangiku. Namun sebelum ia berkata banyak, Aku segera terus terang berkata kepadanya bahwa tidak mungkin ada jalan aku akan kembali dengannya. Aku sudah milik Mas Faisal. Selamanya. Meskipun jasad Mas Faisal sirna, namun ada buah hatinya di sampingku. Buah hati kami. Hatiku pun kini telah tenang bersama Mas Faisal. Dan aku merasa, tak bakal ada yang dapat menggeser Mas Faisal di hatiku. Aku teramat bahagia dengan buah hatiku. Dengan dia aku merasa Mas Faisal selalu ada disampingku. . . []


Komentar
Posting Komentar